CONTOH STUDY KASUS D3 KEBIDANAN
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Angka kematian ibu (AKI) merupakan salah
satu indikator untuk melihat derajat kesehatan perempuan. Menurut data WHO pada tahun 2013, sebanyak
585.000 perempuan meninggal saat hamil atau persalinan. Sebanyak 99% kematian ibu
akibat masalah persalinan atau kelahiran terjadi di negara-negara berkembang.
Rasio kematian ibu di negara-negara berkembang merupakan tertinggi dengan 450
kematian ibu per 100 ribu kelahiran bayi hidup jika dibandingkan dengan rasio
kematian ibu di 9 negara maju dan 51 negara berkembang. (WHO, 2013).
Di ASEAN angka kematian ibu (AKI) sebanyak 210/1000
kelahiran hidup.Sedangkan angka kematian bayi (AKB) di ASEAN sebanyak 42/1000
kelahiran hidup.Diantara 10 negara ASEAN angka kematian bayi di Indonesia menempati
peringkat ke-7 ASEAN (Prasetyawati, 2012).
Berdasarkan
Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012, AKI (yang berkaitan
dengan kehamilan, persalinan, dan nifas) sebesar 359 per 100.000 kelahiran
hidup. Angka ini masih cukup tinggi jika dibandingkan dengan negara–negara
tetangga di Kawasan ASEAN. Pada tahun 2012 SDKI kembali mencatat kenaikan AKI
yang signifikan, yakni dari 228 menjadi 359 kematian ibu per 100.000 kelahiran
hidup. Oleh karena itu, pada tahun 2012 Kementerian Kesehatan meluncurkan
program Expanding Maternal and Neonatal Survival (EMAS) dalam rangka menurunkan
angka kematian ibu dan neonatal sebesar 25%. Program ini dilaksanakan di
provinsi dan kabupaten dengan jumlah kematian ibu dan neonatal yang besar,
yaitu Sumatera Utara, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sulawesi
Selatan. Dasar pemilihan provinsi tersebut dikarenakan 52,6% dari jumlah total
kejadian kematian ibu di Indonesia berasal dari enam provinsi tersebut.
Sehingga dengan menurunkan angka kematian ibu di enam provinsi tersebut
diharapkan akan dapat menurunkan angka kematian ibu di Indonesia secara
signifikan. (Depkes RI, 2012)
Berdasarkan Data
Dinas Kesehatan Provinsi Banten (2015), jumlah kematian ibu atau AKI di
Provinsi Banten (2015) yaitu sebanyak 216 ibu yang meninggal dunia, di mana
yang paling terbesar yaitu di Kabupaten Serang sebanyak 57 orang (26,38%), Kabupaten
Tanggerang sebanyak 39 orang (18,05%), Kabupaten Pandeglang 35 orang (16,20%),
Kabupaten Lebak sebanyak 33 orang (15,27%), Kota Serang sebanyak 17 orang
(7,87%), Kota Tangerang selatan 14 orang (6,48%), Kota Cilegon 12 orang (5,55
%) dan Kota Tangerang yaitu 9 orang (4,16%)
Penyebab
langsung kematian ibu atau penyebab utama kematian ibu adalah perdarahan (28
%), eklampsia (13%), aborsi yang tidak aman (11%), serta sepsis (10%).
Preeklampsia dan eklampsia, serta infeksi dan perdarahan diperkirakan mencakup
75-85 % dari seluruh kematian maternal.
Angka kejadian persalinan di RSUD
dr. Adjidarmo Kab. Lebak pada bulan Januari sampai Maret 2017 sebanyak 1.343
persalinan, dengan angka kejadian kasus Partus Prematuritas Imminens sebanyak
65 kasus yaitu pada bulan Januari sebayak 29 dari jumlah persalinan 427, pada bulan Febuari sebanyak 16 dari 368 jumlah persalinan, dan pada
bulan Maret
sebanyak 20 dari 503 jumlah persalinan.
Angka kejadian persalinan prematur pada
umumnya adalah sekitar 6-10 %. Hanya 1,5 %
persalinan terjadi pada umur kehamilan kurang dari 32 minggu dan 0,5%
pada kehamilan kurang dari 28 minggu. Namun,kelompok ini merupakan dua pertiga
dari kematian neonatal. Kesulitan utama dalam persalinan preterm ialah
perawatan bayi preterm, yang semakin muda usia kehamilannya semakin besar
morbiditas dan mortilitas. Penelitian lain menunjukan bahwa umur kehamilan dan
berat bayi lahir sering berkaitan dengan risiko kematian perinatal. Pada
kehamilan umur 32 minggu dengan berat bayi > 1.500 gram keberhasilan hidup
sekitar 85%, sedangkan pada umur kehamilan sama dengan berat janin
< 1.500 gram angka keberhasilan sebesar 80 %. Pada umur kehamilan < 32 minggu
dengan berat lahir < 1.500 gram angka
keberhasilan hanya sekitar 59 %. Hal ini menunjukan bahwa keberhasilan
pesalinan preterm tidak hanya tergantung umur kehamilan, tetapi juga berat bayi
lahir.(Prawirohardjo, 2012 ).
Kompetensi
bidan dituntut untuk mampu dalam memberikan asuhan kebidanan pada ibu hamil,
bersalin, nifas, dan bayi baru lahir untuk dapat menurunkan angka kematian ibu
dan bayi. Maka dari itu penulis tertarik untuk mengambil judul kasus “Manajemen Asuhan Kebidanan pada Masa
Kehamilan, Persalinan dengan Partus Prematurus Imminens, Nifas dan Bayi Baru
Lahir di RSUD Dr. Adjidarmo Kab. Lebak Tahun 2017“.
B.
Tujuan
Penulisan
1. Tujuan
Umum
Mampu melaksanakan asuhan
kebidanan pada ibu hamil, bersalin,
nifas, dan bayi baru lahir dengan pendokumentasian varney.
2.
Tujuan Khusus
a. Mampu
melakukan pengkajian pada ibu hamil, bersalin dengan partus prematurus imminens,
nifas, dan bayi baru lahir di RSUD. Dr. Adjidarmo kab. Lebak;
b. Mampu
melakukan interpretasi data atau mendiagnosis pada ibu hamil, bersalin dengan
partus prematurus imminens, nifas, dan bayi baru lahir di RSUD. Dr. Adjidarmo
kab. Lebak;
c. Mampu
mengantisipasi diagnosis pada ibu hamil, bersalin dengan partus prematurus
imminens, nifas, dan bayi baru lahir di RSUD. Dr. Adjidarmo kab. Lebak;
d. Mampu
melakukan tindakan segera pada ibu hamil, bersalin dengan partus prematurus
imminens, nifas, dan bayi baru lahir di RSUD. Dr. Adjidarmo kab. Lebak;
e. Mampu
melakukan rencana asuhan pada ibu hamil,
bersalin dengan partus prematurus imminens, nifas, dan bayi baru lahir di RSUD.
Dr. Adjidarmo kab. Lebak;
f. Mampu
melaksanakan asuhan kebidanan pada ibu hamil, bersalin, nifas, dan bayi baru
lahir;
g. Mampu
melakukan evaluasi pada ibu hamil,
bersalin, nifas, dan bayi baru lahir, serta;
h. Mampu
melakukan pendokumentasian pada ibu hamil, bersalin, nifas, dan bayi baru
lahir;
C. Ruang
Lingkup
1. Asuhan
kebidanan pada kehamilan Ny. D meliputi
pengkajian, pemeriksaan, menegakkan diagnosis, membuat perencanaan, melakukan
tindakan, serta membuat evaluasi yang dilakukan di Ruang Bersalin RSUD Dr.
Adjidarmo pada tanggal 06 Maret 2017 pukul 12.40 WIB;
2. Asuhan
kebidanan pada ibu bersalin Ny. A meliputi pengkajian, pemeriksaan, menegakan
diagnosis, membuat perencanaan,
melakukan tindakan, serta membuat evaluasi yang dilakukan di Ruang
Bersalin RSUD Dr. Adjidarmo pada tanggal 08 Maret 2017 pukul 18.25 WIB;
3. Asuhan
kebidanan pada ibu nifas Ny. A meliputi pengkajian, pemeriksaan, menegakan
diagnosis, membuat perencanaan, melakukan tindakan, serta membuat evaluasi yang
dilakukan di ruang nifas RSUD dr. Adjidarmo pada tanggal 09 Maret 2017 pukul
24.45 WIB;
4. Asuhan
kebidanan pada bayi baru lahir Ny. A meliputi pengkajian, pemeriksaan, menegakan
diagnosis, membuat perencanaan, melakukan tindakan, serta evaluasi yang
dilakukan di ruang perinatalogi RSUD dr. Adjidarmo pada tanggal 09 Maret 2017
pukul 20.45 WIB;
BAB
II
MANAJEMEN
KASUS
A.
MANAJEMEN
ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU HAMIL
1.
Tinjauan
Pustaka
a.
Pengertian
Masa kehamilan
dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin, lama hamil normal adalah 280 hari
(40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari hari pertama haid terakhir. (Prawirihardjo,2008)
Menurut
Federasi Obstetri Ginekologi Internasional, kehamilan didefinisikan sebagai
fertilisasi atau penyatuan dari spermatozoa dan ovum dilanjutkan dengan nidasi
atau implantasi. Masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahir janin,
lamanya hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung
dari hari pertama haid terakhir. (Saifuddin, 2009).
Kehamilan adalah
dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin yang terjadi di dalam rahim selama
kurang lebih 40 minggu. Kehamilan adalah pertumbuhan dan perkembangan janin
intrauterine sejak konsepsi dan berakhir sampai permulaan persalinan (Manuaba,
2010).
b.
Diagnosis Kehamilan
1)
Tanda tidak
pasti kehamilan
Tanda tidak pasti kehamilan menurut Vivian
(2011) yaitu:
a) Tidak Dapat Haid (amenorea)
Untuk menentukan usia kehamilan dan
perkiraan persalinan yang akan terjadi dihitung dengan menggunakan rumus
naegele.
b) Mual muntah (nausea and
vomiting)
c) Ingin makanan khusus (ngidam)
d) Pingsan, sering dijumpai bila berada di tempat ramai.
e) Tidak ada selera makan ( anoreksia).
f) Lelah ( fatique).
g)
Payudara
membesar, tegang, dan sedikit terasa nyeri disebabkan pengaruh estrogen dan
progesterone yang merangsang duktus dan alveoli payudara.
h) Sering buang air
kecil, karena kandung kemih tertekan
oleh
rahim yang membesar akan hilang pada triwulan
kedua
kehamilan. Pada akhir kehamilan gejala ini
kembali
oleh karena kandung kemih tertekan oleh
kepala
janin.
i)
Konstipasi/Obstipasi
j)
Pigmentasi
kulit
k)
Epulis:
hipertrofi dan papillaginggivae.
l)
Pemekaran
vena-vena (varises).
2) Kemungkinan hamil
Kemungkinan hamil
menurut Vivian (2011( yaitu:
a)
Perut Membesar
b)
Uterus
Membesar, terjadi perubahan dalam bentuk besar dan konsitensi dari rahim.
c)
Tanda hegar
ialah Hipertrofi ismus pada triwulan pertama membuat ismus menjadi panjang dan
lebih lunak.
d)
Tanda
Chadwick ialah adanya hipervaskularisasi mengakibatkan vagina dan vulva tampak
lebih merah, agak kebiruan (livide).
e)
Tanda
Piscasek ialah uterus membesar ke salah satu jurusan sehingga menonjol jelas ke
jurusan pembesaran tersebut.
f)
Tanda
Braxton-Hicks. Bila uterus dirangsang mudah berkontraksi.
g)
Teraba
Ballotement
h)
Reaksi
Kehamilan Positif.
3) Tanda pasti kehamilan
Tanda pasti kehamilan menurut Vivian
(2011) yaitu:
a) Gerakan janin yang dapat dilihat/dirasa/diraba, juga bagian
bagian janin.
b) Denyut jantung janin
·
Didengar
dengan stetoskop monoral Laennec
·
Dicatat dan
didengar alat doppler
·
Dicatat
dengan feto Elektrokardigram
·
Dilihat
pada Ultrasografi (USG)
c) Terlihat tulang tulang janin dalam foto rontgen.
c.
Proses Terjadinya Kehamilan
Proses
terjadinya kehamilan dimulai dari awal siklus menstruasi wanita FSH atau
Folikel Stimulating Hormon yang merangsang beberapa folikel menjadi matang
dalam kisaran waktu kurang lebih 2 minggu. Selanjutnya sel telur akan lepas
dari indung telur dan dikenal dengan istilah ovulasi. Sel telur yang telah
matang tersebut selanjutnya akan ditangkap oleh fimbrae. Selanjutnya akan
menuju ke saluran telur atau tuba fallopi. Di tempat tersebut, sel telur akan
menunggu kedatangan sperma untuk membuahinya. Jika sperma masuk ke dalam tuba
falopi, sperma akan bertemu dengan sel telur yang sedang matang atau ovum dan terjadilah pembuahan sel telur atau
yang dikenal dengan istilah konsepsi atau fertilitas. Sel telur yang telah
berhasil dibuahi sperma akan membelah diri dan bergerak kembali menuju ke dalam
ringga rahim dan selanjutnya melekat pada mukosa rahim dan melakukan
proses menetap atau disebut dengan istilah nidasi/implemetasi. Sel telur yang
telah melekat tersebut selanjutnya akan terus tumbuh dan berkembang dan
membentuk rambut-rambut halus yang berfungsi menyerap gizi ke dalam rahim
sebagai sumber energi dalam menjamin pertumbuhannya. Pada hari kelima, sel
telur tadi keluar dari indung telur dan mulai membentuk syaraf. Selanjutnya,
janin akan membentuk otak dan sumsum dan dilanjutkan dengan terbentuknya
jantung, otot sampai ke pembuluh darah. Sementara itu, di dalam rahim akan
terbentuk plasenta yang berperan selayaknya selimut dan menutupi tubuh janin. Plasenta
mengandung pembuluh darah ibu atau maternal dan juga embrio. Melalui plasenta
tersebutlah, janin atau embrio mendapatkan nutrisi dari ibunya. Melalui organ
ini pula terjadi pertukaran gas respirasi dan juga pembuangan limbah hasil
metabolisme janin. Sehingga plasenta dianggap sebagai jembatan yang menyatukan
ibu dan bayi yang dikandungnya. Proses terjadinya kehamilan selanjutnya adalah
perkembangan janin menjadi bayi. Biasanya janin akan dideteksi pada usia 3
minggu. Dalam kehamilan dibagi ke dalam 3 tahapan, yaitu trimester pertama,
trimester kedua, dan trimester ketiga (Prawirohardjo, 2008).
d.
Perubahan-Perubahan Fisiologi Selama Kehamilan
1)
Uterus
Uterus akan membesar
pada bulan-bulan pertama dibawah pengaruh estrogen dan progesterone yang
kadarnya meningkat. Pembesaran ini pada dasarnya disebabkan oleh hipertropi
otot polos uterus.
Disamping itu,
serabut-serabut kolagen yang adapun menjadi higroskopik akibat meningkatnya
kadar estrogen sehingga uterus dapat mengikuti pertumbuhan janin. Bila uterus
normal lebih kurang 30 gram, pada akhir kehamilan (40 minggu) berat uterus ini
menjadi 1000 gram, dengan panjang lebih kurang 20 cm dan dinding lebih kurang
2,5 cm.
Pada bulan-bulan
pertama kehamilan bentuk uterus seperti buah advokat, agak gepeng. Pada
kehamilan 4 bulan uterus berbentuk bulat, selanjutnya pada akhir kehamilan
kembali seperti bentuk semula, lonjong seperti telur.
2)
Serviks
Uteri
Serviks uteri pada
kehamilan juga mengalami perubahan karena hormone estrogen. Jika korpus uteri
mengandung lebih banyak jaringan otot, maka serviks banyak mengandung jaringan
ikat, hanya 10% jaringan otot. Jaringan ikat pada serviks ini mengandung
kolagen. Akibat kadar estrogen meningkat, dan dengan adanya hipervaskularisasi
maka konsistensi serviks menjadi lunak.
3)
Vagina dan
Vulva
Vagina dan vulva akibat
hormone estrogen mengalami perubahan pula. Adanya hipervaskularisasi
mengakibatkan vagina dan vulva tampak lebih merah, agak kebiru-biruan (livide). Tanda ini disebut tanda
chadwicks.
4)
Ovarium
Pada kehamilan masih
terdapat korpus luteum graviditas sampai terbentuknya plasenta pada kira-kira
kehamilna 16 minggu. Korpus luteum graviditas berdiameter kira-kira 3 cm. Kemudian,
ia mengecil setelah plasenta terbentuk.
5)
Mammae
Dibawah pengaruh
progesterone dan somatomammotropin, terbentuk lemak disekitar kelompok-kelompok
alveolus, sehingga mammae menjadi lebih besar. Papilla mammae akan membesar,
lebih tegak, dan lebih hitam seperti seluruh areola mammae hyperpigmentasi.
Glandula mentgomery tampak lebih jelas menonjol dipermukaan aerola mammae. Pada
kehamilan 12 minggu ke atas dari putting susu dapat keluar cairan berwarna
putih agak jernih, disebut kolostrum.
6)
Sirkulasi
Darah
Volume darah ibu dalam
kehamilan bertambah secara fisiologik dengan adanya pencarian darah yang
disebut hemodilusi. Volume darah akan bertambah banyak, kira-kira 25% dengan
puncak kehamilan 32 minggu, diikuti dengan cardiac out put yang meninggi
sebanyak kira-kira 30%.
Eritrosit dalam
kehamilan juga meningkat untuk memenuhi keperluan transport zat asam yang
dibutuhkan sekali dalam kehamilan. Meskipun ada peningkatan dalam volume
eritrosit secara keseluruhan, tetapi penambahan volume plasma jauh lebih besar,
sehingga konsentrasi hemoglobin dalam darah menjadi lebih rendah.
Hal
ini tidak boleh dinamakan anemia fisiologi dalam kehamilan, oleh karena jumlah
haemoglobin pada wanita hamil dalam keseluruhannya lebih besar dari pada
sewaktu belum hamil.
7)
Sistem
Respirasi
Seorang wanita hamil
pada kelanjutan kehamilannya tidak jarang mengeluh tentang rasa sesak dan
pendek nafas. Hal ini ditemukan pada kehamilan 32 minggu ke atas oleh karena
usus-usus.
8)
Traktus
Digestivus
Pada bulan-bulan
pertama kelahiran terdapat perasaan enek (nausea),
mungkin ini akibat kadar hormone estrogen yang meningkat. Tonus otot-otot
traktus disetivus menurun, sehingga seluruh traktus digestivus juga berkurang.
Makanan lebih lama
berada di dalam lambung dan apa yang telah direncanakan lebih lama berada dalam
usus-usus. Hal ini mungkin baik untuk reporsi, akan tetapi menimbulkan pula
obstipasti, yang merupakan salah satu keluhanutama wanita hamil.
9)
Traktus
Urinarius
Pada bulan-bulan
pertama kelahiran kadung kencing tertekan oleh uterus yang mulai membesar,
sehingga timbul sering kencing. Keadaan ini hilang dengan makin tuanya
kehamilan. Bila kepala janin mulai turun ke bawah pintu atas panggul, keluhan
sering kencing akan timbul lagi karena kandung kencing mulai tertekan kembali.
10)
Kulit
Pada kulit terdapat
pigmen dan hyperpigmentasi alat-alat tertentu, pigmentasi ini disebabkan oleh
pengaruh melanophore stimulating hormone (MSH) yang meningkat. Kadang-kadang
terdapat deposit pigmen pada dahi, pipi dan hidung, dikenal sebagai chloasma
gravidarum.
Di daerah leher sering
terdapat hyperpigmentasi yang sama, juga aerola mammae. Linea alba pada
kehamilan menjadi hitam, dikenal sebagai linea nigra. Tidak jarang dijumpai
kulit perut seolah-olah retak-retak, warnanya berubah agak hiperemik dan
kebiru-biruan, disebut livide.
e.
Perubahan Psikologi Selama Kehamilan
1) Trimester pertama (1-3 bulan)
a) Ibu merasa tidak sehat benci dengan
kehamilannya.
kehamilannya.
b) Kadang-kadang muncul penolakan, kekecewaan,
kecemasan, dan kesedihan.
kecemasan, dan kesedihan.
c) Ibu akan selalu mencari tanda-tanda apakah ia benar-benar
hamil, hal ini dilakukan sekedar untuk meyakinkan dirinya.
d) Setiap perubahan yang terjadi dalam dirinya akan selalu
mendapat perhatian dengan seksama.
e) Oleh karena perutnya masih kecil, kehamilan merupakan rahasia
seorang ibu yang mungkin akan diberitahukan kepada orang lain atau malah
mungkin dirahasiakannya.
f) Hasrat untuk melakukan seks berbeda-beda pada tiap wanita,
tetapi kebanyakan akan mengalami penurunan.
2) Trimester Kedua (4-6 bulan)
a) Ibu merasa sehat, ibu sudah terbiasa dengan kadar hormon yang
tinggi.
b) Ibu sudah bisa menerima kehamilannya.
c) Merasakan gerakan anak.
d) Hubungan sosial meningkat dengan wanita hamil lainnya atau
pada orang lain yang baru menjadi ibu.
e) Ketertarikan dan aktivitasnya terfokus pada kehamilan,
kelahiran dan persiapan untuk peran baru.
3) Trimester Ketiga (7-9 bulan)
a) Rasa tidak nyaman datang kembali, merasa dirinya jelek, aneh,
dan tidak menarik.
b) Merasa tidak menyenangkan ketika bayi lahir tidak tepat
waktu.
c) Takut akan rasa sakit dan bahaya fisik yang timbul pada saat
melahirkan khawatir akan keselamatannya.
d) Khawatir bayi akan dilahirkan dalam keadaan tidak normal,
bermimpi yang mencerminkan perhatian dan kekhawatirannya.
e) Merasa sedih karena akan terpisah dari bayinya.
f) Merasa kehilangan perhatian.
g) Perasaan mudah terluka (sensitive).
h) Libido menurun. ( Sulistiyawati, 2009 )
f.
Kebutuhan Dasar Ibu Hamil
1) Kebutuhan Fisik Ibu
Hamil
a)
Oksigen
Kebutuhan oksigen merupakan hal yang
utama pada manusia termasuk ibu hamil. Posisi miring kiri dianjurkan untuk
meningkatkan perfusi uterus dan oksigenasi fetoplasenta dan mengurangi tekanan
pada vena assenden (hipotensi supine) (Manuaba, 2008).
b) Nutrisi dalam Kehamilan
Gizi ibu hamil harus ditingkatkan hingga 300 kalori per hari
dengan menu seimbang (Manuaba, 2008).
c) Personal Hygiene
Kebersihan harus dijaga
pada saat hamil, karena ibu hamil cenderung banyak mengeluarkan keringat
sehingga dianjurkan sedikitnya mandi dua kali sehari, dan menjaga kebersihan
diri terutama pada bagian lipatan kulit (ketiak, pada bawah buah dada, dan
daerah genital) dengan cara dibersihkan dengan air lalu dikeringkan (Manuaba,
2008).
d)
Eliminasi
(BAB atau BAK)
Dianjurkan minum 8-12 gelas cairan
setiap hari agar produksi air kemih tercukupi (Mochtar, 2008).
e)
Seksual
(Manuaba, 2008)
Selama kehamilan berjalan normal, koitus
diperbolehkan sampai akhir kehamilan meskipun beberapa para ahli berpendapat
sebaiknya tidak lagi berhubungan seks selama 14 hari menjelang kelahiran.
Koitus tidak diperbolehkan bila :
(1) Terdapat perdarahan pervaginam
(2) Terdapat riwayat abortus berulang
(3) Abortus atau partus prematurus imminens
(4) Ketuban pecah
(5) Serviks telah membuka
f) Mobilisasi dan Body Mekanik
Ibu hamil boleh melakukan kegiatan atau
aktifitas fisik seperti biasa selama tidak terlalu melelahkan dan tidak
mengganggu kehamilan. Contohnya, seperti senam hamil. Senam hamil ini dimulai
pada umur kehamilan setelah 22 minggu. Senam hamil bertujuan untuk
mempersiapkan dan melatih otot-otot sehingga dapat berfungsi secara optimal
dalam persalinan serta perubahan titik berat tubuh (Manuaba, 2008).
g)
Istirahat
dan Tidur
Jadwal istirahat dan tidur tidak perlu
diperhatikan dengan baik, karena istirahat dan tidur yang teratur dapat
meningkatkan kesehatan jasmani dan rohani untuk kepentingan perkembangan dan
pertumbuhan janin. Tidur pada malam hari kurang lebih 8 jam dan istirahat dalam
keadaan relaksasi pada siang hari selama 1 jam (Prawirohardjo, 2008).
h) Pekerjaan
Melakukan aktifitas boleh dilakukan
tetapi jangan dipaksakan untuk tidak menggangu selama kurang lebih 8 jam sehari
(Prawirohardjo, 2008).
i)
Kebutuhan
Psikologi Ibu Hamil
Selama hamil kebanyakan wanita mengalami
perubahan psikologis dan emosional. Agar proses psikologi dalam kehamilan
berjalan normal dan baik maka ibu hamil perlu mendapatkan dukungan dan
kenyamanan dalam psikologisnya (Prawirohardjo, 2008).
g.
Tanda
Bahaya Kehamilan
Tanda–tanda bahaya kehamilan menurut Mochtar
(2008), yaitu:
(2008), yaitu:
1) Penglihatan
kabur
2) Oedema
pada muka dan ekstremitas
3) Pergerakan
janin berkurang
4) Nyeri
ulu hati
5) Perdarahan
pervaginam
6) Ketuban
pecah sebelum waktunya
7) Demam
8) Kejang
9) Mual
muntah berlebihan
10) Nyeri
perut bagian bawah.
h.
Asuhan Antenatal Care
1) Pengertian
Antenatal care atau asuhan antenatal ialah asuhan pada
saat sebelum melahirkan yang merupakan upaya pencegahan dalam program pelayanan
kesehatan obstetrik untuk peningkatan kesehatan maternal dan neonatal melalui
serangkaian kegiatan pemantauan rutin selama kehamilan (Prawirohardjo, 2009).
2) Manfaat
Antenatal memberikan
manfaat untuk mengetahui kesehatan umum ibu, menegakkan secara dini penyakit yang
menyertai kehamilan, menegakkan secara dini komplikasi kehamilan, dan
menetapkan resiko kehamilan (resiko tinggi, resiko meragukan, resiko rendah).
Asuhan antenatal juga untuk menyiapkan
persalinan, mempersiapkan perawatan bayi dan laktasi serta memulihkan kesehatan
ibu yang optimal saat akhir kala nifas (Manuaba, 2010).
3) Pentingnya Asuhan Antenatal
Pentingnya mendapatkan asuhan antenatal yaitu:
a) Memantau
kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu dan tumbuhkembang janin.
b) Meningkatkan
dan mempertahankan kesehatan fisik, mental, dan sosial ibu dan janin.
c) Mengenali
secara dini adanya ketidaknormalan atau komplikasi yang mungkin terjadi selama
hamil, termasuk riwayat penyakit secara umum, kebidanan dan pembedahan.
d) Mempersiapkan
persalinan cukup bulan, melahirkan dengan selamat, ibu maupun bayinya dengan
trauma seminimal mungkin.
e) Mempersiapkan
ibu agar masa nifas dan pemberian ASI eksklusif berjalan normal.
f) Mempersiapkan
peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran bayi agar dapat tumbuh kembang
secara normal.
g) Menurunkan
morbiditas dan mortalitas.
4) Jadwal Kunjungan Asuhan Antenatal
Kunjungan ANC dilakukan paling sedikit 4 kali selama
kehamilan, yaitu satu kali pada trimester pertama, (sebelum 14 minggu), satu kali
pada trimester 2 (antara 14–28 minggu), dan dua kali pada trimester 3 (antara
minggu ke-28 s.d. minggu ke-36) (Prawirohardjo, 2010).
5) Standar Pelayanan ANC
Adapun Standar Pelayanan Kebidanan (10T)
(Kemenkes, 2012) adalah
a) Timbangan
berat badan dan ukur tinggi
Kenaikan berat badan normal pada ibu hamil, hal tersebut sesuai
dengan teori Mochtar (2008) yaitu 12,5-16,5 kg selama hamil
b) Ukur
tekanan darah
Tekanan darah yang normal 90/60-120/80 MmHg,
bila melebihi dari 130/90 MmHg perlu diwaspadai adanya pre-eklampsia.
c) Nilai
status gizi (ukur lingkar lengan atas)
Normal > 23,5 cm apabila < 23,5 akan
beresiko menderita KEK (Kekurangan Energi Kronik) atau kekurangan gizi yang
lama. Pada keadaan ini diwaspadai kemungkinan ibu melahirkan bayi dengan berat
badan lahir rendah, pertumbuhan dan perkembangan otak janin terhambat sehingga mempengaruhi
kecerdasan anak dikemudian hari. (Prawirohardjo, 2009)
d) Ukur
TFU
Tujuan pemeriksaan TFU menggunakan teknik Mc. Donald
adalah menentukan umur kehamilan berdasarkan minggu dan hasilnya bisa
dibandingkan dengan hasil anamnesis hari pertama haid terakhir (HPHT) dan kapan
gerakan janin mulai dirasakan.
Tabel 2.1
Ukuran
TFU sesuai masa kehamilan
|
Usia
Kehamilan
|
Tinggi
fundus uteri (TFU)
|
|
16
minggu
|
Pertengahan
simpisis dan pusat
|
|
20 minggu
|
2-3
jari dibawah pusat
|
|
24 minggu
|
Setinggi
pusat
|
|
28
minggu
|
2-3
jari diatas pusat
|
|
36 minggu
|
3
jari dibawah prosessus sifoideus
|
|
40
minggu
|
Pertengahan
pusat dan prosessus sifoideus
|
(sumber: Vivian Nanny, 2011)
e) Tentukan
presentasi janin dan denyut jantung janin (DJJ) denyut jantung janin
normal 120 – 160 kali/menit. Hal
tersebut sesuai dengan teori menurut mochtar (2008).
f) Skrining
atau status imunisasi tetanus dan berikan imunisasi TT bila diperlukan, maka
perlu mendapat dua kali suntik TT dengan jarak minimal satu bulansesuai dengan
teori yang dikemukakan oleh Kemenkes (2012).
g) Pemberian
tablet zat besi minimal 90 tablet selama kehamilantablet Fe 1x1diminum pada malam
hari sebelum tidur dengan air putih, dan ibu sudah mendapatkan tablet Fe
sebanyak 90 tablet. Hal ini sesuai dengan teori Kemenkes (2012).Pemberian kalk
mulai umur kehamilan 13 sampai 32 minggu. Konsusmsi yang dianjurkan 500 mg per
hari.
h) Test
Lab
i) Tatalaksana
Kasus
j) Temu
wicara (konseling) termasuk perencanaan persalinan dan pencegahan komplikasi
(P4K) serta KB pascapersalinan (Depkes, 2009).
i.
Manajemen
Kebidanan
Manajemen kebidanan adalah proses pemecahan masalah yang
digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan
berdasarkan teori ilmiah, penemuan, keterampilan, dan rangkaian/tahapan yang
logis untuk pengambilan suatu keputusan yang berfokus pada klien (Simatupang,
2008).
Adapun langkah-langkah pendekatan manajemen kebidanan
Varney yaitu sebagai berikut:
1) Langkah
I: Pengkajian (Pengumpulan Data Dasar)
Pada langkah pertama ini bidan mengumpulkan semua
informasi yang akurat dan lengkap dari semua sumber yang berkaitan dengan
kondisi klien yang baik dari hasil anamnesa dengan klien, suami/keluarga, hasil
pemeriksaan dan dokumentasi pasien atau catatan tenaga kesehatan yang lain.
2) Langkah
II: Interpretasi Data dan Menentukan Diagnosis Masalah
Diagnosis bisa kita tegakkan dari informasi keluarga dan
hasil pemeriksaan. Pada langkah ini dilakukan identifikasi terhadap diagnosis
atau masalah berdasarkan interprestasi yang benar atas data-data yang telah
dikumpulkan. Data dasar yang dikumpulkan diinterprestasi sehingga dapat
merumuskan diagnosis dan masalah yang spesifik. (Wildan, 2008).
3) Langkah
III: Diagnosis Potensial dan Melakukan Antisipasi Masalah
Diagnosa
potensial akan terjadi bila diagnosis aktual tidak ditangani. Pada langkah ini
kita mengidentifikasi masalah atau diagnosis potensial lain berdasarkan
rangkaian masalah dan diagnosis yang sudah diidentifikasi. Langkah ini
membutuhkan antisipasi, bila memungkinkan dilakukan dapat bersiap diri bila
diagnosis/masalah potensial ini benar-benar terjadi. Pada langkah ini penting
sekali melakukan asuhan yang aman.
4) Langkah
IV: Menentukan Kebutuhan Tindakan Segera
Pada langkah ini bidan menetapkan kebutuhan terhadap
tindakan segera, melakukan konsultasi, kolaborasi dengan tenaga kesehatan
laindan menangani bersama dengan anggota tim kesehatan yang lain sesuai dengan
kondisi pasien. Langkah keempat mencerminkan kesinambungan dari proses
penatalaksanaan kebidanan yang terjadi dalam kondisi emergensi, dapat terjadi
pada saat mengelola ibu hamil, ibu bersalin, nifas, dan bayi baru lahir. Untuk
menangani atau mengatasi diagnosa atau masalah yang terjadi mungkin saja
diperlukan data baru yang lebih efektif sehingga mengetahui penyebab langsung
masalah yang ada, sehingga diperlukan tindakan segera untuk mengatasi
penyebabnya.
5) Langkah
V: Menyusun Rencana Asuhan Secara Menyeluruh
Pada langkah ini direncanakan asuhan yang
menyeluruh ditentukan oleh langkah-langkah sebelumnya. Langkah ini merupakan
kelanjutan penatalaksanaan terhadap masalah atau diagnosis yang telah
diidentifikasi atau diantisipasi, baik yang sifatnya segera maupun rutin. Pada
langkah ini informasi data yang tidak lengkap dapat dilengkapi dengan
merumuskan tindakan yang sifatnya mengevaluasi atau memeriksa kembali atau
perlu tindakan yang sifatnya follow up.
Rencana asuhan yang menyeluruh tidak hanya meliputi penanganan masalah yang
sudah teridentifikasi dari kondisi klien atau dari setiap masalah yang
berkaitan, tetapi juga tindakan yang bentuknya antisipasi (dibutuhkan penyuluhan,
konseling).
6) Langkah
VI: Melakukan Implementasi Asuhan Kebidanan
Langkah keenam, pelaksanaan asuhan yang menyeluruh
seperti yang telah diuraikan pada langkah kelima dilandaskan secara efisien dan
aman (Saminem, 2010).
Dalam situasi dimana bidan berkolaborasi dengan dokter
untuk menangani klien yang mengalami komplikasi maka keterlibatan bidan dalam
manajemen asuhan bagi klien adalah bertanggung jawab terhadap pelaksanaannya
rencana asuhan secara menyeluruh.
7)
LangkahVII: Evaluasi
Pada
langkah terakhir ini dilakukan evaluasi keefektifan dari asuhanmeliputi
pemenuhan kebutuhan akan bantuan apakah benar-benar telah terpenuhi sesuai
dengan kebutuhan sebagaimana telah diidentifikasi di dalam diagnosis dan
masalah. Rencana tersebut dapat dianggap efektif jika memang benar efektif
dalam pelaksanaannya. Ada kemungkinan bahwa sebagian rencana tersebut telah
efektif sedang sebagian belum efektif.
2.
Tinjauan Kasus
Ny. D usia 21 tahun,
berkebangsaan indonesia, agama islam, pendidikan terakhir SMK, pekerjaan ibu
rumah tangga, bersuamikan Tn. K umur 23 tahun, berkebangsaan Indonesia, agama
islam, pendidikan terakhir SMK bekerja sebagai wiraswasta bertempat tinggal di Kp. Grogol
RT/RW 02/01 Rangrapan Jaya
Ny. D datang ke ruang
bersalin RSUD. Dr. Adjidarmo Kab. Lebak pada pukul 12.40 WIB atas rujukan poli KIA, ibu mengatakan ini merupakan
kehamilan pertama dan belum pernah keguguran.
Riwayat menstruasi yaitu Menarch usia 13 tahun, hari pertama haid
terakhir 16 juni 2016, lamanya empat hari, banyaknya tiga kali ganti pembalut
siklusnya 31
hari, konsistensi cair. Haid sebelumnya tanggal 14
Mei 2016, lamanya tujuh hari, banyaknya tiga kali ganti pembalut, siklus
31 hari, konsistensi cair,
dismenorhoe tidak. Penghitungan dengan rumus neagle maka didapatkan taksiran
persalinan tanggal 23 Maret 2017. Pasien mengaku pernah melakukan
tes kehamilan pada tanggal 28 Juli
2016 dengan hasil HCG positif
(+), pergerakan fetus dirasakan pertama kali pada usia kehamilan ± 16 minggu (4
bulan) dan pergerakan fetus dalam 24 jam terakhir lebih dari 10 kali.
Pola makan sehari tiga kali dengan menu
seimbang, yaitu nasi, ikan, sayur-sayuran, buah-buahan, dan susu. Terdapat perubahan pola makan menjadi empat kali sehari. BAB
lancar satu kali sehari konsistensi lembek, BAK lebih dari empat kali sehari konsistensi
cair warna jernih. Aktivitas sehari-hari istirahat tidur siang dua jam dan
tidur malam delapan jam, tidak ada keluhan dalam berhubungan suami istri,
pekerjaan menyapu, memasak, dan mencuci. Ibu sudah pernah mendapatkan imunisasi
TT2 pada tanggal 06 Januari 2017. Ibu
mengatakan belum pernah menggunakan alat kontrasepsi.
Riwayat kesehatan ibu tidak pernah menderita penyakit jantung,
tekanan darah tinggi, diabetes meletus, hepatitis, anemia berat, PMS HIV/AIDS,
campak, malaria, gangguan mental, operasi, dan lain-lain. Ibu tidak pernah
mengkonsumsi alkohol, obat-obatan terlarang, obat obatan warung, kecuali
anjuran dokter atau bidan, dan tidak pernah meminum jamu-jamuan, tidak merokok,
dan ibu selalu mengganti pakaian dalam sehari dua kali.
Kehamilan
ini adalah kehamilan yang diharapkan, jenis kelamin bayi yang diinginkan apa saja. Ibu tinggal serumah dengan suami dan orang tua. Kepercayaan yang
berhubungan dengan kehamilan, persalinan dan nifas tidak ada seperti membawa
gunting, tidak boleh keluar malam, riwayat kesehatan keluarga tidak mempunyai
riwayat penyakit keturunan seperti Diabetes Militus, asma, hipertensi dan
jantung.
Dari hasil pemeriksaan umum didapatkan
data, keadaan umum: baik, kesadaran: compos mentis, keadaan emosional: stabil,
tekanan darah: 110/70 mmHg, nadi: 76 kali/menit, respirasi: 21 kali/menit, suhu: 36,2 0C,
tinggi badan: 155
cm, berat badan sebelum hamil: 48
kg, selama hamil 61
kg, kenaikan berat badan selama hamil 13
kg, LILA 24 cm.
Pemeriksaan fisik didapatkan pada rambut
merata, tidak rontok,bersih. Muka tidak pucat, tidak oedema, cloasma gravidarum
tidak ada. Pada kelopak mata tidak oedema, konjungtiva tidak pucat, sklera
tidak kuning.Pada hidung polip,
sekret tidak ada. Telinga bersih, tidak
ada pengeluaran cairan. Pada
mulut bersih, tidak ada pembengkakan pada tonsil dan caries. Leher tidak ada
pembesaran kelenjar tiroid dan getah bening.
Pada bagian dada, payudara simetris
kanan dan kiri, ada pembesaran, putting susu menonjol, tidak ada benjolan, pengeluaran
tidak ada dan rasa nyeri tidak ada. Posisi tulang belakang lordosis fisiologis,
tidak ada kelainan nyeri ketuk.
Pada inspeksi abdomen, luka operasi,
striae ada pembesaran lien/liver tidak
ada, konsistensi lunak, ada linea nigra. Dilakukan pemeriksaan palpasi TFU 29 cm, Leopold I pada bagian
fundus ibu teraba tidak
bulat, lunak, tidak melenting.
Leopold II pada bagian kanan perut ibu teraba tahanan panjang seperti papan,
dan pada bagian kiri perut ibu teraba bagian−bagian kecil janin.Leopold III bagian
terbawah teraba bulat, keras dan tidak dapat
digoyangkan. Leopold IV Divergen. TBJ (29 - 11) x 155 = 2790 gram. Secara auskultasi didapat
denyut jantung janin (+) dengan frekuensi : 138x/m, PM: Terdengar jelas pada satu titik dibawah
pusat bagian kanan perut ibu. Pemeriksaan
anogenital secara inspeksi vulva / vagina
tidak ada kelainan, pengeluaran tidak ada, varises tidak ada, oedema tidak ada,
parut perineum tidak ada. Pada anus tidak ada
hemoroid.
Pada pemeriksaan ekstremitas atas dan
bawah: tungkai tidak oedema, varises tidak ada, tidak ada kekauan sendi, tidak
oedema, refleks patella kanan (+), kiri (+), keluhan lain tidak ada. Pada
pemeriksaan laboratorium Hb : 11,2 gr%, dan dilakukan USG.
Diagnosis untuk Ny. D adalah G1P0A0 hamil
37 minggu 5 hari.
Janin tunggal hidup presentasi kepala.
Asuhan yang dilakukan pada Ny. D yaitu :
1. Melakukan
informed consent untuk dilakukan pemeriksaan fisik. Ibu bersedia dilakukan
pemeriksaan
2. Memberitahu
ibu hasil pemeriksaan bahwa keadaan ibu dan janin baik, hasil pemeriksaan
meliputi TD: 110/70mmHg, DJJ: 138x/menit, TBJ : 2790 gram,
3. Memberitahukan
ibu untuk mempersiapkan persalinan seperti dimana tempat bersalin, alat
transportasi, siapa yang akan menolong persalinan, tabulin, donor darah dan
pengambilan keputusan pertama. Ibu
mengerti dan paham
4. Menganjurkan ibu untuk istirahat cukup
pada siang hari minimal 1 jam dan malam hari 8 jam. Ibu mengerti dan bersedia
melakukannya
5. Memberikan ibu KIE tentang KB seperti pilihan KB jangka panjang
dan untuk ibu
menyusui. Ibu mengerti dan paham
6. Memberikan ibu KIE tentang IMD yaitu menyusui bayinya di
satu jam pertama. Ibu mengerti dan paham
7. memberikan ibu KIE tentang ASI yaitu betapa pentingnya ASI bagi kebutuhan bayi, manfaat dan
kelebihan ASI. Ibu mengerti dan paham
3.
Pembahasan
Berdasarkan hasil pemeriksaan yang telah dilakukan sesuai dengan
manajemen kebidanan pada ibu hamil didapatkan hasil yang normal dan tidak ada
kelainan. Keadaan umum ibu baik dan tidak ada keluhan. Tanda-tanda vital ibu normal. Kenaikan berat badan
Ny. D selama hamil adalah 13 kg. Hal ini sesuai dengan
teori Mochtar (2008) bahwa kenaikan berat badan selama hamil 12,5-16,5 kg.
Pada pemeriksaan LILA didapatkan hasil
LILA 24 cm hal ini dilakukan untuk menilai status gizi pada Ny. D, dan
didapatkan hasil yang normal. Hal ini sesuai dengan teori prawirohardjo (2009) yang menyatakan bahwa
LILA Normal > 23,5 cm apabila < 23,5 akan
beresiko menderita KEK (Kekurangan Energi Kronik) atau kekurangan gizi yang
lama. Pada keadaan ini diwaspadai kemungkinan ibu melahirkan bayi dengan berat
badan lahir rendah, pertumbuhan dan perkembangan otak janin terhambat sehingga mempengaruhi
kecerdasan anak dikemudian hari.
Ny. D telah
mendapatkan imunisasi TT dua kali. Hal ini sesuai dengan teori Kemenkes
(2012), bahwa ibu hamil perlu
mendapatkan imunisasi TT dua kali dengan jarak
minimal satu bulan. Suntik TT melindungi ibu dan bayinya dari penyakit
tetanus toksoid.
Pada pemeriksaan kehamilan Ny. D denyut
jantung janin 138
kali/menit, hal tersebut sesuai dengan teori menurut Mochtar (2008). Denyut
jantung janin normal, yaitu 120-160 kali permenit.
Pada
pemeriksaan ANC Ny.D dilakukan standar
pelayanan ANC 10 T. Hal ini sesuai dengan teori Kemenkes (2012) bahwa standar
asuhan ANC harus dilakukan 10 T.
Pada asuhan Ny. D diberikan KIE tentang
perencanaan persalinan dan keluarga berencana. Hal ini sesuai dengan standar pelayanan
ANC yang ke 10 yaitu Temu wicara (konseling) termasuk perencanaan persalinan
dan keluarga berencana paca persalinan (Depkes, 2009)
B. MANAJEMEN KASUS PADA IBU
BERSALIN
1.
Tinjauan
Pustaka
a. Pengertian Persalinan
Persalinan adalah proses pengeluaran
janin dan uri yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-42 minggu), dengan
lahir spontan dan janin dapat hidup sehat di dunia luar dengan presentasi
belakang kepala, tanpa komplikasi baik pada ibu maupun pada janin
(Prawirohardjo, 2009).
Kekuatan his makin sering terjadi dan
teratur dengan jarak kontraksi yang semakin pendek. Dapat terjadi pengeluaran
pervaginam yaitu pengeluaran lendir atau pengeluaran lendir bercampur darah.
Dapat juga disertai ketuban pecah. Pada pemeriksaan dalam terdapat perubahan
serviks yaitu : pelunakan serviks, pendataran serviks dan terjadinya pembukaan
serviks .
Tahapan persalinan dibagi 4 tahap menurut Mochtar, 2013
yaitu:
1) Kala
I : Inpartu ditandai dengan keluarnya lendir bercampur darah (bloody show) karena servik mulai
membuka (dilatasi) dan mendatar (effacement).
Darah berasal dari pecahnya pembuluh darah kapiler sekitar kanalis servisis
akibat pergeseran ketika servik mendatar dan membuka. Kala pembukaan dibagi
atas dua fase.
a) Fase
Laten: pembukaan servik yang berlangsung sampai pembukaan 3 cm, lamanya 7-8
jam.
b) Fase
aktif berlangsung selama 6 jam dan dibagi atas tiga sub fase
(1) Akselerasi:
berlangsung 2 jam, pembukaan menjadi
4
cm.
(2) Dilatasi
maksimal: selama 2 jam pembukaan
berlangsung
cepat menjadi 9 cm.
(3) Deselerasi:
berlangsung lambat, dalam waktu 2 jam
dari
pembukaan 9-10 cm atau lengkap.
2) Kala
II : pada kala pengeluaran janin his terkoordinasi, kuat, cepat, dan lebih
lama, kira-kira 2-3 menit sekali. Kepala janin telah turun dan masuk keruang
panggul sehingga terjadilah tekanan pada otot-otot dasar panggul yang melalui
lengung reflek menimbulkan rasa mengedan. Karena tekanan pada rectum, ibu
merasa seperti ingin buang air besar, dengan tanda anus terbuka. Pada waktu his
kepala janin mulai kelihatan, vulva membuka, dan perineum menegang. Dengan his
dan mengedan yang terpimpin, akan lahir kepala, diikuti oleh seluruh badan
janin.
Kala II pada primi berlangsung 1 sampai
2 jam. Pada multi berlangsung 1/2
sampai 1 jam.
3) Kala
III : setelah bayi lahir, kontraksi Rahim beristirahat sebentar. Uterus teraba
keras dengan fundus uteri setinggi pusat, dan berisi plasenta yang menjadi 2
kali lebih tebal dari sebelumnya. Beberapa saat kemudian., timbul his pelepasan
dan pengeluaran plasenta. Dalam waktu 5-10 menit, seluruh plasenta terlepas, terdorong
kedalam vagina dan akan lahir spontan atau dengan sedikit dorongan dari atas
sympisis atau fundus uteri. Proses ini biasanya berlangsung 5-30 menit setelah
bayi lahir. Pengeluaran plasenta disertai dengan pengeluaran darah kira-kira
100-200 cc.
4) Kala
IV : dimulai dari saat lahirnya plasenta sampai 2 jam pertama post partum. Kala
IV yaitu kala pengawasan atau observasi. Pengawasan kala IV dilakukan setiap 15
menit setiap jam pertama, dan setiap 30 menit pada jam ke-2 yang diobservasi
yaitu kontraksi, perdarahan, kandung kemih, TFU, suhu, nadi, tekanan darah
(JNPK-KR 2008).
b. Derajat Laserasi Perineum :
1) Grade
I : Robekan mulai dari mukosa vagina,
Komisura posterior, sampai kulit
perineum.
2) Grade
II : Robekan
mulai dari mukosa vagina, komisura posterior, kulit perineum, sampai oto perineum.
3) Grade
III : Robekan mulai dari mukosa vagina, komisura posterior, Kulit Perineum, otot perineum, sampai spingter ani
4) Grade IV
: Robekan mulai dari mukosa
vagina, komisura posterior, Kulit
perineum, otot perineum, spingter ani, sampai mukosa rektum.
c. Sebab-sebab timbulnya
persalinan
Penyebab timbulnya persalinan belum diketahui benar, yang ada
hanyalah teori-teori yang komplek. Teori tersebut mengemukakan faktor-faktor
humoral, struktur rahim, sirkulasi rahim, pengaruh tekanan saraf, dan nutrisi.
1) Teori
menurut Hormone : 1-2 minggu sebelum partus, mulai terjadi penurunan kadar
hormon esterogen dan progesterone. Progesteron bekerja sebagai penegang
otot-otot polos Rahim. Karena itu, akan terjadi kekejangan pembuluh darah yang
menimbulkan his, jika kadar progesteron turun.
2) Teori
plasenta menjadi tua : penuaan plasenta akan menyebabkan turunnya kadar
estrogen dan progesterone sehingga terjadi kekejangan pembuluh darah. Hal
tersebut akan menimbulkan kontraksi Rahim.
3) Teori
distensi Rahim : Rahim yang menjadi besar dan meregang menyebabkan diskemia
otot-otot Rahim sehingga mengganggu sirkulasi uteroplasenta.
4) Teori
iritasi mekanik : dibelakang serviks, terletak gang lion serikale (pleksus
prankenhauser). Apabila gang lion tersebut digeser dan ditekan, misalnya oleh
kepala janin, akan timbul kontraksi uterus.
5) Induksi
partus (induction of labour). Partus dapat pula ditimbulkan dengan:
a) Gang laminaria: beberapa laminaria dimasukan
dalam kanalis serviks dengan tujuan merangsang pleksus prankenhauser.
b) Amniotomi: pemecahan ketuban.
c) Tetesan oksitosin: pemberian oksitosin melalui
tetesan per infus. (Rustam Mochtar,2013)
d.
Tanda-tanda
Persalinan
1) Penipisan
dan pembukaan serviks.
2) Kontraksi
uterus yang mengakibatkan perubahan pada serviks (frekuensi minimal 2 kali
dalam 10 menit).
3) Keluarnya
lendir bercampur darah dari vagina.
4) Keluar
air-air atau ketuban.
e. Mekanisme
Persalinan Normal
Dalam keadaan fleksi
kepala janin memasuki ruang panggul dengan ukuran yang paling kecil, yaitu
diameter suboksiput bregmatika (9,5 cm) dan dengan sirkum farensia suboksiput
bregmantika (32 cm), sampai di dasar panggul kepala janin berada dalam keadaan
dalam fleksi maksimal. Kepala yang sedang turun menemui diafragma pelvic yang
berjalan dari belakang atas bawah depan. Akibat kombinasi elastisitas diafragma
pelvic dan tekanan intrauterine disebabkan oleh his yang berulang-ulang, kepala
mengalami rotasi secara spontan yang disebut putaran paksi dalam.
Pada saat kepala
mengalami rotasi, ubun-ubun kecil akan berputar kearah depan, sehingga di dasar
panggul ubun-ubun kecil berada dibawah simpisis, dan dengan suboksiput sebagai
hipomoklion kepala mengalami defleksi untuk dapat dilahirkan. Pada setiap his,
vulva lebih membuka dan kepala janin semakin tampak. Perineum semakin lebar dan
tipis, anus membuka dinding rektum. Dengan kekuatan his dan tenaga ibu pada
saat mengedan yang disertai dengan pembukaan vulva, maka lahirlah dahi, muka
dan dagu.
Kemudian kepala
mengalami rotasi atau putaran paksi luar yang dilakukan untuk menyesuaikan
kedudukan kepala dengan punggung bayi. Bahu melintasi pintu atas panggul yang
dilaluinya, sehingga didasar panggul, apabila kepala telah dilahirkan bahu akan
berada dalam posisi depan belakang. Selanjutnya dilahirkan bahu depan terlebih dahulu
bahu baru kemudian bahu belakang. Demikian pula dilahirkan trokanter depan
kemudian trokanter belakang lahirlah bayi seluruhnya (Prawirohardjo, 2009).
f. Faktor-faktor yang berperan
terhadap persalinan yaitu :
a) Power
(kekuatan mendorong janin keluar)
1) His
atau kontraksi uterus
2) Kontraksi
otot-otot dinding perut
3) Kontraksi
diafragma (kekuatan mengejan)
4) Keregangan
dan kontraksi liga mentum rotundum
b) Passenger
(faktor janin)
c) Passage
(faktor jalan lahir)
g.
Pengertian
PPI
Partus Prematurus Imminens adalah
persalinan yang berlangsung pada umur kehamilan 20 – 37 minggu dihitung dari
hari pertama menstuasi terakhir (HPMT) Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan
bahwa bayi premature adalah bayi yang lahir pada usia kehamilan 37minggu atau
kurang.
h.
Epidemiologi
Partus Prematurus Imminens (PPI)
Pemicu obstetri yang mengarah pada PPI
antara lain: (1) persalinan atas indikasi ibu ataupun janin, baik dengan
pemberian induksi ataupun seksio sesarea; (2) PPI spontan dengan selaput amnion
utuh; dan (3) PPI dengan ketuban pecah dini, terlepas apakah akhirnya
dilahirkan pervaginam atau melalui seksio sesarea. Sekitar 30-35% dari PPI
berdasarkan indikasi, 40-45% PPI terjadi secara spontan dengan selaput amnion
utuh, dan 25-30% PPI yang didahului ketuban pecah dini (Harry dkk, 2010).
Konstribusi penyebab PPI berbeda
berdasarkan kelompok etnis. PPI pada wanita kulit putih lebih umum merupakan
PPI spontan dengan selaput amnion utuh, sedangkan pada wanita kulit hitam lebih
umum didahului ketuban pecah dini sebelumnya. PPI juga bisa dibagi menurut usia
kehamilan: sekitar 5% PPI terjadi pada usia kehamilan kurang dari 28 minggu (extreme
prematurity), sekitar 15% terjadi pada usia kehamilan 28-31 minggu (severe
prematurity), sekitar 20% pada usia kehamilan 32-33 minggu (moderate
prematurity), dan 60-70% pada usia kehamilan 34-36 minggu (near term).
Dari tahun ke tahun, terjadi peningkatan angka kejadian PPI, yang sebagian
besar disebabkan oleh meningkatnya jumlah kelahiran preterm atas indikasi
(Harry dkk, 2010).
i.
Faktor
Resiko Partus Prematurus Imminens
Faktor
resiko PPI menurut Wiknjosastro (2010) yaitu :
1)
Janin dan plasenta :
perdarahan trimester awal, perdarahan antepartum, KPD, pertumbuhan janin
terhambat, cacat bawaan janin, gemeli, polihidramnion
2)
Ibu : DM, pre eklampsia, HT,
ISK, infeksi dengan demam, kelainan bentuk uterus, riwayat partus preterm atau
abortus berulang, inkompetensi serviks, pemakaian obat narkotik, trauma,
perokok berat, kelainan imun/resus
Namun
menurut Rompas ada beberapa resiko yang dapat menyebabkan partus prematurus
yaitu :
1) Faktor
resiko mayor : Kehamilan multiple, hidramnion, anomali uterus, serviks terbuka
lebih dari 1 cm pada kehamilan 32 minggu, serviks mendatar/memendek kurang dari
1 cm pada kehamilan 32 minggu, riwayat abortus pada trimester II lebih dari 1
kali, riwayat persalinan pretem sebelumnya, operasi abdominal pada kehamilan
preterm, riwayat operasi konisasi, dan iritabilitas uterus.
2) Faktor
resiko minor : Penyakit yang disertai demam, perdarahan pervaginam setelah
kehamilan 12 minggu, riwayat pielonefritis, merokok lebih dari 10 batang
perhari, riwayat abortus pada trimester II, riwayat abortus pada trimester I
lebih dari 2 kali.
j.
Diagnosis
Partus Prematurus Imminens (PPI)
Beberapa kriteria dapat dipakai sebagai diagnosis ancaman
PPI (Wiknjosastro, 2010), yaitu:
1) Usia
kehamilan antara 20 dan 37 minggu atau antara 140 dan 259 hari,
2) Kontraksi
uterus (his) teratur, yaitu kontraksi yang berulang sedikitnya setiap 7-8 menit
sekali, atau 2-3 kali dalam waktu 10 menit,
3) Merasakan
gejala seperti rasa kaku di perut menyerupai kaku menstruasi, rasa tekanan
intrapelvik dan nyeri pada punggung bawah (low back pain),
4) Mengeluarkan
lendir pervaginam, mungkin bercampur darah,
5) Pemeriksaan
dalam menunjukkan bahwa serviks telah mendatar 50-80%, atau telah terjadi
pembukaan sedikitnya 2 cm,
6) Selaput
amnion seringkali telah pecah,
7) Presentasi
janin rendah, sampai mencapai spina isiadika.
Kriteria
lain yang diusulkan oleh American Academy of Pediatrics dan The American
Collage of Obstetricians and Gynecologists untuk mendiagnosis PPI ialah
sebagai berikut:
1) Kontraksi
yang terjadi dengan frekuensi empat kali dalam 20 menit atau delapan kali dalam
60 menit plus perubahan progresif pada serviks,
2) Dilatasi
serviks lebih dari 1 cm,
3) Pendataran
serviks sebesar 80% atau lebih.
Menurut Mansjoer manifestasi klinik persalinan
pretem adalah:
1) Kontraksi uterus
yang teratur sedikitnya 3 sampai 5 menit sekali selama 45 detik dalam waktu
minimal 2 jam .
2) Pada fase aktif,
intensitas dan frekuensi kontraksi meningkat saat pasien melakukan aktivitas.
3) Tanya dan cari
gejala yang termasuk faktor risiko mayor dan minor
4) Usia kehamilan
antara 20 samapi 37 minggu
5) Taksiran berat
janin sesuai dengan usia kehamilan antara 20 sampai 37 minggu.
6) Presentasi janin
abnormal lebih sering ditemukan pada persalinan preterm.
k. Pemeriksaan Penunjang Partus
Prematurus Imminens (PPI)
Pemeriksaan
penunjang yang dilakukan untuk mendukung ketepatan diagnosis PPI :
1)
Laboratorium
a) Pemeriksaan
kultur urine
b) Pemeriksaan
gas dan pH darah janin
c) Pemeriksaan darah tepi ibu
d) Jumlah
lekosit
C-reactive protein . CRP ada pada serum penderita yang
menderita infeksi akut dan dideteksi berdasarkan kemampuannya untuk
mempresipitasi fraksi polisakarida somatik nonspesifik kuman Pneumococcus yang
disebut fraksi C. CRP dibentuk di hepatosit sebagai reaksi terhadap IL-1, IL-6,
TNF.
2) Pemeriksaan
ultrasonografi
Penipisan serviks:
Iams dkk. (1994) mendapati bila ketebalan seviks < 3 cm (USG) , dapat
dipastikan akan terjadi persalinan preterm. Sonografi serviks transperineal
lebih disukai karena dapat menghindari manipulasi intravagina terutama pada
kasus-kasus KPD dan plasenta previa.
l.
Penatalaksanaan
Partus Prematurus Imminens (PPI)
Beberapa langkah yang dapat dilakukan pada PPI, terutama
untuk mencegah morbiditas dan mortalitas neonatus preterm ialah:
1) Menghambat
proses persalinan preterm dengan pemberian tokolitik, yaitu :
a) Kalsium
antagonis: nifedipin 10 mg/oral diulang 2-3 kali/jam, dilanjutkan tiap 8 jam
sampai kontraksi hilang. Obat dapat diberikan lagi jika timbul kontaksi
berulang. dosis maintenance 3x10 mg.
b) Obat
ß-mimetik: seperti terbutalin, ritrodin, isoksuprin, dan salbutamol dapat
digunakan, tetapi nifedipin mempunyai efek samping yang lebih kecil.
Salbutamol, dengan dosis per infus: 20-50 μg/menit, sedangkan per oral: 4 mg,
2-4 kali/hari (maintenance) atau terbutalin, dengan dosis per infus:
10-15 μg/menit, subkutan: 250 μg setiap 6 jam sedangkan dosis per oral: 5-7.5
mg setiap 8 jam (maintenance). Efek samping dari golongan obat ini
ialah: hiperglikemia, hipokalemia, hipotensi, takikardia, iskemi miokardial,
edema paru.
c) Sulfas
magnesikus: dosis perinteral sulfas magnesikus ialah 4-6 gr/iv, secara bolus
selama 20-30 menit, dan infus 2-4gr/jam (maintenance). Namun obat ini
jarang digunakan karena efek samping yang dapat ditimbulkannya pada ibu ataupun
janin. Beberapa efek sampingnya ialah edema paru, letargi, nyeri dada, dan
depresi pernafasan (pada ibu dan bayi).
d) Penghambat
produksi prostaglandin: indometasin, sulindac, nimesulide dapat menghambat
produksi prostaglandin dengan menghambat cyclooxygenases (COXs) yang
dibutuhkan untuk produksi prostaglandin. Indometasin merupakan penghambat COX
yang cukup kuat, namun menimbulkan risiko kardiovaskular pada janin. Sulindac
memiliki efek samping yang lebih kecil daripada indometasin. Sedangkan
nimesulide saat ini hanya tersedia dalam konteks percobaan klinis. (Prawirohardjo,
2012 )
Untuk
menghambat proses PPI, selain tokolisis, pasien juga perlu membatasi aktivitas
atau tirah baring serta menghindari aktivitas seksual. Kontraindikasi relatif
penggunaan tokolisis ialah ketika lingkungan intrauterine terbukti tidak baik,
seperti:
a) Oligohidramnion
b) Korioamnionitis
berat pada ketuban pecah dini
c) Preeklamsia
berat
d) Hasil
nonstrees test tidak reaktif
e) Hasil
contraction stress test positif
f) Perdarahan
pervaginam dengan abrupsi plasenta, kecuali keadaan pasien stabil dan
kesejahteraan janin baik
g) Kematian
janin atau anomali janin yang mematikan
h) Terjadinya
efek samping yang serius selama penggunaan beta-mimetik.
2) Akselerasi
pematangan fungsi paru janin dengan kortikosteroid,
Pemberian
terapi kortikosteroid dimaksudkan untuk pematangan surfaktan paru janin,
menurunkan risiko respiratory distress syndrome (RDS), mencegah
perdarahan intraventrikular, necrotising enterocolitis, dan duktus
arteriosus, yang akhirnya menurunkan kematian neonatus. Kortikosteroid perlu
diberikan bilamana usia kehamilan kurang dari 35 minggu.
Obat
yang diberikan ialah deksametason atau betametason. Pemberian steroid ini tidak
diulang karena risiko pertumbuhan janin terhambat. Pemberian siklus tunggal
kortikosteroid ialah:
a)
Betametason 2 x 12 mg i.m.
dengan jarak pemberian 24 jam.
b)
Deksametason 4 x 6 mg i.m.
dengan jarak pemberian 12 jam.
Selain
yang disebutkan di atas, juga dapat diberikan Thyrotropin releasing
hormone 400 ug iv, yang akan meningkatkan kadar tri-iodothyronine
yang kemudian dapat meningkatkan produksi surfaktan. Ataupun pemberian suplemen
inositol, karena inositol merupakan komponen membran fosfolipid yang berperan
dalam pembentukan surfaktan.
3)
Pencegahan terhadap infeksi
dengan menggunakan antibiotik.
Mercer
dan Arheart menunjukkan, bahwa pemberian antibiotika yang tepat dapat
menurunkan angka kejadian korioamnionitis dan sepsis neonatorum. Antibiotika
hanya diberikan bilamana kehamilan mengandung risiko terjadinya infeksi,
seperti pada kasus KPD. Obat diberikan per oral, yang dianjurkan ialah
eritromisin 3 x 500 mg selama 3 hari. Obat pilihan lainnya ialah ampisilin 3 x
500 mg selama 3 hari, atau dapat menggunakan antibiotika lain seperti
klindamisin. Tidak dianjurkan pemberian ko-amoksiklaf karena risiko necrotising
enterocolitis.
m. Komplikasi
Partus
Prematurus Imminens (PPI)
1) Pada ibu, setelah persalinan preterm, infeksi
endometrium lebih sering terjadi mengakibatkan sepsis dan lambatnya penyembuhan
luka episiotomi. Bayi-bayi preterm memiliki risiko infeksi neonatal lebih
tinggi; Morales (1987) menyatakan bahwa bayi yang lahir dari ibu yang menderita
anmionitis memiliki risiko mortalitas 4 kali lebih besar, dan risiko distres
pernafasan, sepsis neonatal, necrotizing
enterocolitis dan
perdarahan intraventrikuler 3 kali lebih
besar.
2)
Sindroma
gawat pernafasan (penyakit membran hialin).
Paru-paru yang
matang sangat penting bagi bayi baru lahir. Agar bisa bernafas dengan bebas,
ketika lahir kantung udara (alveoli) harus dapat terisi oleh udara dan
tetap terbuka. Alveoli bisa membuka lebar karena adanya suatu bahan yang
disebut surfaktan, yang dihasilkan oleh paru-paru dan berfungsi
menurunkan tegangan permukaan. Bayi prematur seringkali tidak menghasilkan
surfaktan dalam jumlah yang memadai, sehingga alveolinya tidak tetap terbuka.
Diantara
saat-saat bernafas, paru-paru benar-benar mengempis, akibatnya terjadi Sindroma
Distres Pernafasan. Sindroma ini bisa menyebabkan kelainan lainnya dan pada
beberapa kasus bisa berakibat fatal. Kepada bayi diberikan oksigen; jika
penyakitnya berat, mungkin mereka perlu ditempatkan dalam sebuah ventilator
dan diberikan obat surfaktan (bisa diteteskan secara langsung melalui sebuah
selang yang dihubungkan dengan trakea bayi).
Ketidak matangan pada sistem saraf pusat
bisa menyebabkan gangguan refleks menghisap atau menelan, rentan terhadap
terjadinya perdarahan otak atau serangan apneu. Selain paru-paru yang
belum berkembang, seorang bayi prematur juga memiliki otak yang belum
berkembang. Hal ini bisa menyebabkan apneu (henti nafas), karena pusat
pernafasan di otak mungkin belum matang. Untuk mengurangi frekuensi serangan
apneu bisa digunakan obat-obatan. Jika oksigen maupun aliran darahnya
terganggu. otak yang sangat tidak matang sangat rentan terhadap perdarahan
(perdarahan intraventrikuler) atau
cedera .
Ketidakmatangan
sistem pencernaan menyebabkan intoleransi pemberian makanan. Pada awalnya,
lambung yang berukuran kecil mungkin akan membatasi jumlah makanan/cairan yang
diberikan, sehingga pemberian susu yang terlalu banyak dapat menyebabkan bayi
muntah. Pada awalnya, lambung yang berukuran kecil mungkin akan membatasi
jumlah makanan/cairan yang diberikan, sehingga pemberian susu yang terlalu
banyak dapat menyebabkan bayi muntah.
3) Retinopati dan gangguan penglihatan atau kebutaan (fibroplasia
retrolental)
4) Displasia bronkopulmoner.
5) Penyakit jantung.
6) Jaundice.
Setelah lahir, bayi memerlukan fungsi hati dan fungsi usus yang normal untuk membuang bilirubin (suatu pigmen kuning hasil pemecahan sel darah merah) dalam tinjanya. Kebanyakan bayi baru lahir, terutama yang lahir prematur, memiliki kadar bilirubin darah yang meningkat (yang bersifat sementara), yang dapat menyebabkan sakit kuning (jaundice). Peningkatan ini terjadi karena fungsi hatinya masih belum matang dan karena kemampuan makan dan kemampuan mencernanya masih belum sempurna. Jaundice kebanyakan bersifat ringan dan akan menghilang sejalan dengan perbaikan fungsi pencernaan bayi. Infeksi atau septikemia.
Setelah lahir, bayi memerlukan fungsi hati dan fungsi usus yang normal untuk membuang bilirubin (suatu pigmen kuning hasil pemecahan sel darah merah) dalam tinjanya. Kebanyakan bayi baru lahir, terutama yang lahir prematur, memiliki kadar bilirubin darah yang meningkat (yang bersifat sementara), yang dapat menyebabkan sakit kuning (jaundice). Peningkatan ini terjadi karena fungsi hatinya masih belum matang dan karena kemampuan makan dan kemampuan mencernanya masih belum sempurna. Jaundice kebanyakan bersifat ringan dan akan menghilang sejalan dengan perbaikan fungsi pencernaan bayi. Infeksi atau septikemia.
7) Sistem kekebalan pada bayi prematur belum berkembang
sempurna. Mereka belum menerima komplemen lengkap antibodi dari ibunya
melewati plasenta. Resiko terjadinya infeksi yang serius (sepsis)
pada bayi prematur lebih tinggi. Bayi
prematur juga lebih rentan terhadap enterokolitis nekrotisasi (peradangan pada usus).
8) Anemia .
9) Bayi prematur cenderung memiliki kadar gula darah yang
berubah-ubah, bisa tinggi (hiperglikemia maupun rendah (hipoglikemia).
10) Perkembangan dan pertumbuhan yang lambat.
11) Keterbelakangan mental dan motorik.
2.
Tinjauan
Kasus
Ny.
A berusia 19 tahun berkebangsaan Sunda/Indonesia, agama islam, pendidikan
terakhir SMK, pekerjaan ibu rumah tangga bersuamikan Tn. D, berusia 21 tahun,
agama islam, pendidikan terakhir SMK, bekerja sebagai wiraswasta, pasangan ini
beralamat di Kp. Gubuk RT/RW 02/04 Kec. Sajira.
Ny.A
datang ke RSUD Dr. Adjidarmo Rangkasbitung pukul
18.25 rujukan dari klinik ikhram dengan keluhan mulas sejak pukul 00.30 WIB.
Ny. A mengatakan ini merupakan kehamilan yang pertama
dan tidak pernah keguguran. HPHT : 14 Juli 2016 dan Taksiran Persalinan
Tanggal 21-04-2017, selama kehamilan ini Ny. A memeriksakan kehamilannya sebanyak 4
kali yaitu pada Trimester I sebanyak 1 kali bidan dengan keluhan pusing dan
mual dan diberikan therapy B6, dan pada trimester II sebanyak 2 kali di posyandu,
tidak ada keluhan dan diberikan therapy fe 1x1, dan pada trimester III sebanyak
1 kali di Puskesmas, tidak ada keluhan dan diberikan therapy fe 1x1. Riwayat
Keluarga Berencana Ny. A tidak pernah
menggunakan KB.
Dilakukan pemeriksaan umum dengan hasil Keadaan Umum: Baik,
Keadaan Emosional : Stabil, Kesadaran : Compos Mentis, Tekanan Darah : 110/80
MmHg, Nadi :81x/m, Suhu :36,3oc, Respirasi : 22x/m.
Dilakukan pemeriksaan fisik pada Ny. A dengan hasil pemeriksaan
muka : tidak oedema dan tidak pucat, mata : konjungtiva tidak anemi kelopak
mata tidak oedema, sklera tidak ikterik, hidung : tidak ada polip, telinga :
bersih dan tidak ada pengeluaran, mulut dan gigi : bersih tidak ada caries,
leher : tidak ada pembengkakan kelenjar tyroid dan kelenjar getah bening,
payudara pembesaran : simetris, putting susu menonjol, benjolan tidak ada, rasa
nyeri tidak ada.
Dilakukan palpasi abdomen dan didapatkan hasil :Kontraksi : 4x10
“35”, TFU: 28 cm, L I :Teraba
bulat lunak dan tidak melenting
LII :Teraba panjang ada
tahanan seperti papan diperut sebelah kanan ibu, teraba bagian kecil janin di
sebelah kiri perut ibu,LIII: teraba bulat keras tidak dapat digoyangkan, LIV : Divergen,
TBJ : (28 – 11) x 155 = 2.635 gram
Pada pemeriksaan anogenital tidak ada kelainan, pengeluaran
pervaginam lendir bercampur darah, dilakukan pemeriksaan dalam atas indikasi
untuk menegakan diagnosa. Pemeriksaan dalam dilakukan pukul 18.30 WIB. Dengan
hasil pemeriksaan dalam vulva vagina tidak ada kelainan, portio tipis lunak, pembukaan
8 cm, ketuban (+), presentasi kepala posisi ubun-ubun kecil kanan depan
penurunan hodge III. Dan pemeriksaan pada anus tidak ada haemoroid. Ekstremitas
atas dan bawah pada tungkai tidak ada kelainan, tidak ada varises, tidak ada
oedema, reflek patella kiri dan kanan (+) dan ibu mengatakan tidak ada keluhan
lainnya. Pemeriksaan laboratorium Hb: 11.2 gram%, protein urin: (-).
Dari pemeriksaan didapatkan diagnose G1P0A0
Hamil 33 minggu 6 hari inpartu kala I fase laten dengan Partus Prematurus
Imminens, janin tunggal hidup presentasi
kepala.
Asuhan yang
diberikan yaitu:
1. Melakukan informed consent untuk dilakukan pemeriksaan.
Ibu bersedia untuk dilakukan pemeriksaan.
2. Memberitahu ibu hasil pemeriksaan bahwa ibu dan janin dalam
keadaan baik, pemeriksaan dalam vulva vagina tidak ada kelainan, porsio tipis
lunak ,pembukaan 8 cm, ketuban (+), presentasi kepala posisi ubun-ubun kecil
kanan depan penurunan hodge III.
Ibu mengerti dengan hasil pemeriksaan.
3. Melakukan kolaborasi dengan dokter Sp.OG, dengan intruksi berikan therapi
infuse RL, injeksi dexa 1 x 12 mg, nifedipin 10 mg ulang tiap 20 menit ( 4x )
4. Menganjurkan ibu tetap tenang bila ada his
Ibu mengerti dan mau melakukannya
5. Memberikan support mental dan spiritual pada ibu.
Ibu sudah merasa tenang.
6. Menganjurkan ibu untuk tidak menahan BAB dan BAK
Ibu mengerti dan bersedia melakukannya
7. Mengajarkan ibu teknik relaksasi yaitu tarik nafas dari hidung dan
dikeluarkan dari mulut.
Ibu mengerti dan mau melakukannya
8. Menyiapkan partus set dan heacting set
Partus set dan heacting set sudah disiapkan
9. Melakukan observasi pemantauan DJJ,
Observasi telah dilakukan .
KALA II (Pukul
19.30 WIB)
Ibu mengatakan perutnya semakin mulas dan ada
dorongan ingin meneran, hasil pemeriksaan didapatkan keadaan umum baik,
kesadaran compos mentis, keadaan emosional stabil, dilakukan pemeriksaan dalam
vulva vagina tidak ada kelainan, portio tidak teraba, pembukaan 10 cm, ketuban
(-), penurunan hodge III +, DJJ : 152x/menit, His 5x10”45”,
terpasang infus RL. Dari pemeriksaan diatas didapatkan diagnosa G1P0A0
Hamil 33 minggu 6 hari inpartu
kala II dengan Partus Prematurus iminens, janin tunggal hidup presentasi kepala.
Asuhan yang diberikan adalah
:
1. Memberitahu hasil pemeriksaan bahwa pembukaan sudah lengkap dan
ibu siap untuk meneran
Ibu mengerti dengan hasil pemeriksaan
2. Membantu ibu memilih posisi yang nyaman.
Ibu dalam posisi litotomi.
3. Menghadirkan pendamping persalinan. Ibu didampingi keluarga
4. Memberitahu ibu cara meneran yang baik dan benar
5. Memimpin persalinan sesuai dengan langkah APN pada pukul 19.35 WIB.
Bayi lahir spontan pada pukul 19.45 WIB jenis kelamin perempuan
6. Mengeringkan bayi sambil menilai 3 aspek warna kulit kemerahan,tangisan
kuat,gerakan aktif.
KALA III
(Pukul 19.45 WIB)
Perutnya masih terasa mulas, hasil
pemeriksaan didapatkan keadaan umum baik, kesadaran compos mentis, keadaan
emosional stabil, kandung kemih kosong, perdarahan ± 100cc, TFU Sepusat, tali pusat berada
didepan vulva Diagnosa yang didapatkan adalah P1A0 partus
kala III.
Asuhan yang diberikan adalah :
1. Mengecek janin kedua. Tidak ada janin kedua
2. Memberitahu ibu akan disuntik oxytocin di 1/3 paha bagian luar
secara IM. Ibu bersedia
3. Menyuntikan oxytocin 10 iu di 1/3 paha bagian luar secara im.
Oxytocin sudah disuntikan
4. Melakukan penjepitan dan pemotongan tali pusat. Tali pusat sudah
dipotong
5. Memfasilitasi bayi untuk IMD. IMD sudah dilakukan
6. Melakukan manajemen aktif kala III. Plasenta lahir spontan pukul
21.15 Wib
7. Melakukan masase fundus uteri selama 15 Detik. Uterus berkontraksi
8. Mengajarkan ibu untuk melakukan masase fundus uteri.
Ibu sudah melakukannya
9. Menilai kelengkapan plasenta. Kotiledon lengkap, selaput plasenta
utuh, panjang tali pusat ± 40 cm.
KALA IV
(Pukul 19.55 WIB)
Perutnya masih terasa mulas
setelah melewati proses persalinan dan ibu tidak nyaman dengan keadaan kotor
pada keadaan tubuhnya.
Dari hasil pemeriksaaan didapatkan keadaan umum baik, keadaan
emosional stabil, kesadaran compos mentis, TD 110/70 MmHg nadi 82x/menit,
respirasi 21x/menit, suhu 36,10C. hasil pemeriksaan palpasi
didapatkan TFU 2 jari dibawah pusat, kontraksi uterus baik, kandung kemih
kosong, perdarahan ±75cc, laserasi grade I, Infus RL terpasang.
Berdasarkan
data diatas didapatkan diagnosa P1A0 partus kala IV.
Adapun asuhan yang diberikan yaitu :
1. Mengecek laserasi. Terdapat laserasi grade I
2. Memberitahu ibu akan dilakukan penjahitan. Ibu telah bersedia
3. Melakukan penyuntikan lidocain. Lidocain telah disuntikan
4. Melakukan hacting dari mukosa vagina – kulit perineum. Penjahitan
telah dilakukan
5. Membersihkan ibu dengan air DTT. Ibu telah dibersihkan dan
dirapihkan
6. Membersihkan tempat bersalin dengan larutan klorin 0,5%. Tempat
bersalin telah di bersihkan
7. Mendekontaminasi alat-alat selama 10 menit dengan larutan klorin
0,5%
8. Memberikan selamat kepada ibu. Ibu merasa senang
9. Melakukan pemantauan kala IV selama 2 jam pertama Setiap 15 menit
di 1 jam pertama dan 30 menit di 1 jam kedua. Hasil terlampir dipatograf
3.
Pembahasan
Ny. A datang ke RSUD Dr. Adjidarmo Kab.
Lebak pukul 18.55 WIB dengan mulas mulas
sejak pukul 00.30 WIB tanggal 08 Maret 2017, hasil pemeriksaan dalam didapatkan
pembukaan 8 cm, dengan demikian ibu berada dalam persalinan kala I. Hal ini
sesuai dengan teori bahwa inpartu kala I ditandai dengan kekuatan his makin
sering terjadi dan teratur dengan jarak kontraksi yang semakin pendek. Dapat
terjadi pengeluaran pervaginam yaitu pengeluaran lendir atau pengeluaran lendir
bercampur darah, dapat juga disertai ketuban pecah. Pada pemeriksaan dalam
terdapat perubahan serviks yaitu : pelunakan serviks, pendataran serviks dan
terjadinya pembukaan serviks . (Mochtar, 2013)
Ny. A dikatakan PPI karena didapatkan usia kehamilan 33 minggu 6 hari dihitung dari HPHT hal ini
sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa Partus Prematurus Imminens adalah persalinan
yang berlangsung pada umur kehamilan 20 – 37 minggu dihitung dari hari pertama
menstuasi terakhir (HPMT). Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa bayi
premature adalah bayi yang lahir pada usia kehamilan 37minggu atau kurang.
Penanganan
partus prematurus imminens pada Ny. A dengan pemberian nifedipin 4 x 10 mg
untuk menekan his dan injeksi dexa 1 x 12 mg untuk pematangan paru hal ini
sesuai dengan teori prawirihardjo (2012) untuk menghambat proses persalinan
preterm dengan pemberian tokolitik, yaitu : Kalsium antagonis: nifedipin 10
mg/oral diulang 2-3 kali/jam, dilanjutkan tiap 8 jam sampai kontraksi hilang.
Obat dapat diberikan lagi jika timbul kontaksi berulang. dosis maintenance 3x10
mg. Pemberian terapi kortikosteroid dimaksudkan untuk pematangan surfaktan paru
janin, menurunkan risiko respiratory distress syndrome (RDS), mencegah
perdarahan intraventrikular, necrotising enterocolitis, dan duktus
arteriosus, yang akhirnya menurunkan kematian neonatus. Kortikosteroid perlu
diberikan bilamana usia kehamilan kurang dari 35 minggu.
Persalinan kala II
Ny. A berlangsung selama 15 menit. Hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan
kala II pada primi berlangsung maksimal 2 jam. Pada multi berlangsung 1 jam (Mochtar,
2013).
Persalinan kala III Ny.S
berlangsung selama 10 menit. Plasenta lahir spontan, hal ini sesuai dengan
teori Mochtar (2013) setelah bayi lahir, kontraksi rahim beristirahat
sebentar.Uterus teraba keras dengan fundus uteri setinggi pusat, dan berisi
plasenta yang menjadi 2 kali lebih tebal dari sebelumnya. Beberapa saat
kemudian., timbul his pelepasan dan pengeluaran plasenta. Dalam waktu 5-10
menit, seluruh plasenta terlepas, terdorong kedalam vagina dan akan lahir
spontan atau dengan sedikit dorongan dari atas sympisis atau fundus uteri.
Proses ini biasanya berlangsung 5-30 menit setelah bayi lahir. Pengeluaran
plasenta disertai dengan pengeluaran darah kira-kira 100-200 cc.
Pada
manajemen kala IV telah dilakukan pemantauan terhadap keadaan umum, tanda-tanda
vital, tinggi fundus uteri, kontraksi, kandung kemih, dan perdarahan sesuai
dengan prosedur asuhan persalinan normal yaitu dilakukan setiap 15 menit pada
jam pertama setelah melahirkan, dan setiap 30 menit pada jam ke dua setelah
melahirkan. Hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa kala IV dimulai
dari saat lahirnya plasenta sampai 2 jam pertama post partum, hal ini sesuai
dengan teori JNPK-KR (2008) yang
menyatakan bahwa pemantauan kala IV yaitu kala pengawasan atau observasi.
Pengawasan kala IV dilakukan setiap 15 menit pada jam pertama, dan setiap 30
menit pada jam ke dua yang diobservasi yaitu: kontraksi, perdarahan, kandung
kemih, TFU, suhu, nadi, tekanan darah.
C.
MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU NIFAS
1. Tinjauan
Teori
a. Pengertian
Masa nifas normal (puerperium) dimulai
setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti
keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu atau ±
40 hari (Prawihardjo, 2011).
Nifas adalah waktu dimulai setelah
kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti
keadaan sebelum hamil selama 6 minggu (Saifudin, 2009).
b. Periode Nifas
1) Puerperium
dini yaitu dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan.
2) Puerperium
intermedial yaitu kepulihan menyeluruh alat-alat genitalia yang lamanya 6-8
minggu.
3) Remote
puerperium yaitu waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna, terutama
bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi. Waktu untuk sehat
sempurna mungkin beberapa minggu, bulanan mungkin tahunan.
c. Perubahan-Perubahan
yang Terjadi pada Masa Nifas
Perubahan-perubahan yang terjadi pada masa nifas,yaitu:
1) Involusi
uterus menurut waktu, tinggi fundus uteri dan berat (dr. Rustam Mochtar
sinobsis obstetri)
Tabel
2.2
Involusi
uterus
|
Involusi
|
Tinggi Fundus Uteri
|
|
Bayi lahir
|
Sepusat
|
|
Plasenta lahir
|
2 jari dibawah pusat
|
|
1 minggu
|
Pertengahan pusat simfisis
|
|
2 minggu
|
Tidak teraba diatas
simfisis
|
|
6 minggu
|
Bertambah kecil
|
|
8 minggu
|
Sebesar normal
|
Sumber
:(Prawirhardjo, 2008)
2)
Serviks uteri
Setelah persalinan serviks sedikit menganga seperti
corong warnanya merah kehitaman konsistensinya lunak setelah bayi lahir tangan
masih bisa masuk rongga Rahim, setelah 2 jam dapat dilalui oleh 2- jari dan
setelah 7 hari hanya dapat dilalui 1 jari (mochtar, 2008).
3)
Luka jalan lahir
Luka pada jalan lahir jika tidak disertai dengan infeksi
akan sembuh dengan sendirinya dalam waktu 6-7 hari.
4)
Lochea
Lochea adalah cairan sekret yang berasal dari kavum uteri
dan vagina dalam masa nifas.
a) Lochea
rubra : berisi darah segar dan sisa-sisa selaput ketuban selama 2 hari pasca
persalinan.
b) Lochea
sanguilenta : berwarna merah kuning berisi darah dan lendir hari ke 3-7 pasca
persalinan.
c) Lochea
serosa berwarna kuning dan tidak berdarah lagi pada hari ke 7-14 pasca
persalinan.
d) Lochea
alba : cairan putih selama 2 minggu.
5)
Rasa Sakit
Disebabkan
oleh rahim berkontraksi biasanya berlangsung 2-4 hari pascapersalinan, akan
kembali seperti semula jika masih terasa sakit berikan obat-obat anti nyeri dan
anti mules.
d. Komplikasi pada Masa Nifas
1) Infeksi
Nifas
Mencakup semua peradangan yang disebabkan masuknya
kuman-kuman kedalam alat-alat genitalia pada waktu persalinan dan nifas,
ditandai dengan adanya demam sampai 38°C atau lebih selama 2 hari dalam 10 hari
pertama postpartum. Infeksi biasanya terjadi dari luka jalan lahir pada
endometrium bekas insersi plasenta, vagina dan perineum (Mochtar, 2008).
2) Subinvolusi
Yaitu terganggunya proses pengecilan
uterus ke ukuran semula. Sub involusi di sebut juga oleh perpanjangan periode
pengeluaran lochea dan kadang disertai perdarahan serta kontraksi uterus yang
tidak teratur. Beberapa penyebabnya antara lain infeksi, sisa plasenta yang
tertinggal, pembekuan darah atau kelainan pada uterus seperti mioma
(prawihardjo, 2008)
3) Mastitis
Yaitu
peradangan pada mammae, infeksi terjadi melalui peredaran darah, biasanya
ditandai dengan panas dingin disertai dengan kenaikan suhu dan tidak nafsu
makan (Prawihardjo, 2008).
e. Tanda bahaya nifas
Ada tanda bahaya nifas, yaitu :
1) Demam
2) Perdarahan
aktif atau perdarahan yang hebat dari vagina
3) Banyak
keluar bekuan darah
4) Lochea
berbau busuk dari vagina
5) Pusing
6) Penglihatan
kabur
7) Nyeri
ulu hati
8) Lemas
luar biasa
9) Penyulit
menyusukan anaknya
10) Nyeri
panggul atau abdomen yang lebih hebat nyeri dari kontraksi biasa.
f.
Program dan Kebijakan Masa
Nifas
Kunjungan masa nifas dilakukan selama 4 kali kunjungan.
masa nifas dilakukan untuk menilai keadaan ibu dan bayi baru lahir, untuk
mencegah, mendeteksi dan menangani masalah-masalah yang terjadi.
Tabel 2.3
Tabel Jadwal Kunjungan Nifas
|
Kunjungan
|
Waktu
|
Tujuan
|
|
I
|
6-8
jam setelah persalianan
|
·
Mencegah perdarahan pada
masa nifas karena atonia uteri
·
Pemberian ASI awal
·
Melakukan hubungan antara
ibu dan BBL
·
Menjaga bayi tetap sehat
dengan cara mencegah bayi hipotermi
|
|
II
|
6
hari setelah persalinan
|
·
Memastikan involusi uterus
berjalan dengan normal
·
Menilai adanya tanda-tanda
demam dan infeksi atau perdarahan abnormal
|
|
III
|
2
minggu setelah persalinan
|
·
Memastikan ibu
menyusui dengan baik dan tidak
melihatkan tanda-tanda penyulit.
|
|
IV
|
6
minggu setelah persalinan
|
·
Memberikan konseling pada
ibu, mengenai asuhan pada bayi tetap hangat. Dan merawat bayi sehari-hari
·
Menanyakan kepada ibu
tentang penyulit-penyulit yang ia atau bayinya alami
·
Memberikan konseling untuk
KB secara dini.
|
(Sumber: Prawihardjo, 2009)
g. Perawatan masa nifas
1)
Kebersihan diri
a)
Mengajarkan ibu bagaimana
cara membersihkan daerah kelamin
b)
Sarankan ibu untuk mengganti pembalut atau kain pembalut
c)
Sarankan ibu untuk mencuci
tangan sebelum ataupun sesudah membersihkan
daerah kelaminya 2x Sehari.
d)
Jika ibu mempunyai luka
episiotomi ataupun laserasi sarankan kepada ibu untuk menghindari menyentuh
daerah luka.
2)
Istirahat
a)
Anjurkan ibu untuk istirahat
yang cukup untuk mencegah
kelelahan yang berlebihan, Karna jika kurang istirahat akan menyebabkan
berkurangnya jumlah ASI yang diproduksi, memperlambat involusi dan juga bisa menyebabkan
depresi atau ketidakmampuan untuk merawat bayinya dan dirinya sendiri.
b)
Sarankan untuk kembali ke
kegiatan rumah tangga secara perlahan-lahan dan luangkan waktu istirahat jika
bayi tidur.
3)
Mobilisasi
Miring kanan, miring kiri, duduk dan berjalan-jalan
perlahan-lahan dan mengerjakannya dengan rutin dan secara bertahap maka akan
membantu proses pemulihan.
4)
Defekasi
Harus biasa dilakukan paling lambat 3 – 4 hari pascapersalinan.
5)
Gizi
a) Mengkonsumsi
tambahan kalori setiap hari
b) Minum
air putih sedikitnya 3 liter setiap hari
c) Pil
dan zat gizi harus diminum secara rutin setidaknya selama 40 hari pasca
persalinan.
d) Minum
kapsul vit A (200.000 unit) agar dapat memberikan vit A pada bayinya melalui
ASI.
6)
Perawatan payudara
a) Menjaga
payudara tetap bersih dan kering terutama puting susu
b) Gunakan
Bra yang menyokong payudara
c) Apabila
puting lecet oleskan kolostrum atau ASI ke puting susu yang lecet dan apabila
lecetnya sangat berat dapat diistirahatkan selama 24 jam ASI diminumkan dengan
menggunakan sendok.
d) Jika
nyeri ibu dapat minum parasetamol 1 tablet setiap 4-6 jam
e) Apabila
payudaara bengkak akibat pembendungan ASI dapat dilakukan pengompresan payudara
selama 5 menit, urut payudara dari pangkal menuju putting, keluarkan ASI
sebagian dari bagian depan payudara sehingga putting susu menjadi lunak,
susukan bayi 2-3 jam kemudian letakkan kain dingin pada payudara setelah
menyusui.
7)
Senggama
Secara fisik aman untuk memulai hubungan suami istri
begitu darah berhenti dan ibu dapat memasukan 1 atau 2 jarinya kedalam vagina.
8)
Keluarga berencana (KB)
Sebelum menggunakan KB sebaiknya hal-hal yang harus
diberitahu bagaimana metode ini dapat mencegah kehamilan dan efektifitasnya,
kelebihan dan kekurangan, efek samping, bagaimana cara menggunakan metode.
h.
Adaptasi Psikologis Ibu Nifas
Periode nifas menyebabkan stres emosional terhadap ibu
baru, bahkan lebih menyulitkan bila terjadi perubahan fisik yang hebat. Periode
ini di uraikan oleh Reva Rubin terjadi dalam tiga tahap yaitu:
1) Periode
taking in
Periode ini terjadi 1-2 hari sesudah melahirkan, ibu baru
melahirkan umumnya masih pasif dan tergantung, perhatiannya tertuju pada
tubuhnya, ia mungkin akan mengulang-ulang pengalaman waktu bersalin,
peningkatan nutrisi sangat dibutuhkan untuk mengembalikan tenaga ibu dan
mengurangi rasa lelah pada saat proses persalinan.
2) Periode
taking hold
Periode ini berlangsung pada hari ke-2 sampai 4 hari post
partum. Ibu menjadi perhatian pada kemampuannya menjadi orang tua yang sukses
dan bertanggungjawab kepada bayinya. Ibu berkonsentrasi pada pengontrolan
fungsi tubuhnya seperti BAK, BAB, kekuatan dan ketahanan tubuhnya. Ibu berusaha
keras menguasai tentang keterampilan perawatan bayi.
3) Periode
letting go
Periode
ini biasanya terjadi setelah ibu pulang kerumah dan sangat berpengaruh terhadap
waktu dan persalinan yang di berikan oleh keluarga. Ibu mengambil tanggungjawab
terhadap perawatan bayi, ia harus beradaptasi dengan kebutuhan hak ibu,
kebebasan dan hubungan sosial.
2.
Tinjauan
Kasus
Berdasarkan
anamnesa pada tanggal 09 Maret 2017, pukul 24.45 WIB. Ibu mengatakan tidak ada
keluhan. Riwayat persalinan Ny.A , bersalin tanggal 08 Maret 2017 pukul 19.45 WIB. Jenis
persalinan Normal ditolong oleh bidan dan mahasiswa, jenis kelamin perempuan, berat badan 2.470
gram panjang badan 48 cm, keadan bayi sehat.
Pada saat persalinan ketuban pecah secara spontan, warna jernih , kala I
berlangsung ± 19 jam, kala II berlangsung 15 menit , kala III plasenta lahir
spontan. Perineum terdapat robekan grade I, jumlah perdarahan total 185
cc. Yaitu pada kala I 5 cc, kala II 5 cc
,kala III 100 cc, kala IV 75 cc.
Keadaaan umum : baik, kesadaran : compos mentis , keadaan emosional : stabil,
TD : 110/70 mmHg, nadi : 80x/menit, respirasi : 21x/menit, suhu : 35,80C,
dilakukan pemeriksaan payudara, pembesaran : ada, pengeluaran : ada colostrum,
bentuk : simetris, puting susu : menonjol.
Pemeriksaan
abdomen, TFU : 2 jari dibawah pusat, kontraksi
uterus : baik, konsistensi uterus:
keras, kandung kemih : kosong. Pengeluaran : lochea merah kehitaman
(Rubra) , bau : khas. Perineum : tidak
terdapat luka infeksi pada luka jahitan,
eksteremitas atas/bawah : tidak oedema
Pemeriksaan penunjang laboraturium tanggal 08 maret 2017, dengan hasil HB: 11,2 gram/dl. Diagnosa yang didapatkan pada Ny.A adalah P1A0 Post Partum 6 jam.
Asuhan yang diberikan pada
Ny.A :
1. Melakukan
informed consent, ibu bersedia untuk dilakukan pemeriksaan
2. Memberitahu ibu hasil pemeriksaan yaitu TD : 120/80 mmHg, N: 80x/menit, S: 36,50C
,R: 24x/ menit, TFU : 2 jari dibawah pusat.
Ibu mengerti hasil pemeriksaan.
3. Memberitahu ibu kebutuhan nutrisi ibu nifas
yaitu 2x lebih banyak dari saat hamil. Ibu mengerti
4. Menganjurkan ibu untuk makan-makanan bergizi seperti
nasi, lauk-pauk, sayur-sayuran, buah-buahan, telur, susu, dll serta tidak
memantang makanan apapun. Ibu bersedia makan makanan bergizi.
5. Memberikan ibu KIE tentang ASI yaitu hanya
memberikan ASI saja sampai anak berusia 6 bulan tambah makanan tambahan apapun.
Inu mengerti dan bersedia melakukannya.
6. Memberikan ibu KIE tentang KB yang tepat untuk
ibu pasca melahirkan. Ibi mengerti.
7. Memberitahu ibu tanda bahaya nifas yaitu ;
demam tinggi,kejang, perdarahan yang banyak, dan menganjurkan ibu untuk datang
kenaga kesehatan terdekat jika mengalaminya, ibu mengerti tanda bahaya nifas.
8. Memberikan ibu therapy Asam Mefenamat 3 x 1
dan Fe 1 x1
3.
Pembahasan
Ny. A umur
19 tahun P1Ao Post Partum 6 jam. Diagnosa ini dibuat
berdasarkan data ibu telah melahirkan bayi 6 jam yang lalu pada tanggal 8 Maret
2017 pukul 19.45 WIB. Jenis kelamin perempuan,
BB: 2.470 gram, PB : 48 cm. Pada masa nifas Ny. A mengatakan masih lemas,
penanganan masa nifas telah dilakukan sesuai standar menejemen kebidanan pada
ibu nifas.
Hasil pemeriksaan kontraksi uterus baik,
konsistensi uterus keras, TFU 2 jari dibawah pusat. Hal ini sesuai dengan teori Mochtar (2013)
yang menyatakan bahwa Post Partum 6 jam
atau setelah plasenta lahir TFU 2 jari dibawah pusat.
Asuhan yang diberikan pada Ny.A adalah menganjurkan ibu untuk makan makanan yang bergizi dan tidak boleh pantang
makanan. Hal ini sesuai dengan teori Ambarwati
(2009) yang menyatakan bahwa menu makanan seimbang yang harus dikonsumsi adalah
porsi cukup yang teratur, tidak terlalu asin, pedas atau berlemak, tidak
mengandung alkohol, nikotin serta pengawet atau pewarna. Disamping itu harus
mengandung sumber tenaga (beras, jagung, sagu, tepung terigu dan ubi) sumber
pembangun (ikan, daging, susu, kacang-kacangan dan telur) serta sumber pengatur
dan pelindung (mineral, vitamin dan air).
Asuhan selanjutnya adalah menganjurkan ibu
untuk memberikan ASI ekslusif. Hal ini sesuai dengan teori Depkes RI (2008) yang
mengatakan bahwa ASI dapat memberikan perlindungan baik secara aktif maupun pasif,
ASI juga mengandung Zat anti infeksi, baik yang disebabkan oleh bakteri, virus,
jamur ataupun parasit. ASI diberikan pada enam bulan pertama kehidupan dan
jangan memberikan makanan ataupun minuman lain kepada bayi ( air, madu, larutan
gula atau pengganti susu ibu).
Memberitahu ibu tanda bahaya nifas hal ini
sesuai dengan teori Sulistiyawati (2009) yang menyatakan bahwa yang termasuk
tanda bahaya nifas yaitu perdarahan yang hebat dari vagina, penglihatan kabur,
demam tinggi, nyeri ulu hati, keluar cairan yang berbau dari jalan lahir,
bengkak di muka tangan dan kaki serta disertai sakit kepala hebat dan atau
kejang, juga payudara bengkak atau kemerahan dan disertai rasa sakit atau
puting susu lecet, serta dianjurkan untuk segera ke tenaga kesehatan terdekat
apabila ibu mengalami salah satu masalah atau tanda bahaya diatas.
Terapi yang diberian pada Ny. A adalah asam
mafenamat 3x1, Fe 1x1, hal ini sesuai dengan teori Siswosudarmo (2008) yang
menyatakan bahwa pemberian antibiotik dan analgetik pada ibu pasca bersalin
antibiotik perlu diberikan pada luka episiotomi atau pada luka bekas jahitan.
Manajemen asuhan kebidanan pada Ny. A P1A0 Post Partum 6 jam,
di ruang bersalin dilakukan sesuai dengan standar asuhan kebidanan pada masa
nifas.
D.
MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI BARU LAHIR
1.
Tinjauan Pustaka
a.
Pengertian
Bayi baru lahir adalah bayi yang lahir
dengan umur kehamilan 37 minggu sampai 42 minggu dengan berat lahir 2500-4000
gram (JNPK-R APN 2010).
Bayi baru lahir normal adalah bayi yang
lahir dengan umur kehamilan 37 minggu sampai 42 minggu dan bera lahir 2500 gram
sampai 4000 gram. (Depkes, 2009)
Bayi baru lahir normal adalah berat
lahir antara 2500-4000 gram, cukup bulan, lahir langsung menangis, dan tidak
ada kelainan congenital (cacat bawaan) yang berat
b. Ciri-ciri bayi baru lahir
normal
1) Berat
badan 2500-4000 gram
2) Panjang
badan 48-52 cm
3) Lingkar
dada 30-38 cm
4) Lingkar
kepala 33-35 cm
5) Frekuensi
jantung 120-160 kali / menit
6) Pernapasan
40-60 kali / menit
7)
Kulit kemerahan dan licin
karena jaringan subkutan cukup
8) Rambut
lanugo tidak telihat, rambut kepala biasanya telah sempurna
9) Kuku agak panjang dan lemas
10) Genentalia
perempuan : labio mayora sudah menutupi labio minora, laki-laki : testis sudah
turun, skrotum sudah ada.
11) Refleks
hisap dan menelan sudah terbentuk dengan baik
12) Refleks
moro atau gerak memeluk bila dikagetkan sudah baik.
13) Refleks
graph atau menggengam sudah baik
14) Eliminasi
baik, meconium yang keluar dalam 24 jam pertama, meconium berwarna hitam
kecoklatan
c.
Penanganan
segera bayi baru lahir
Asuhan segera, aman, bersih, untuk bayi baru lahir adalah
:
1) Pencegahan
infeksi
a) Cuci
tangan dengan seksama sebelum dan setelah bersentuhan dengan bayi.
b) Pakai
sarung tangan bersih pada saat menangani bayi yang belum dimandikan.
c) Pastikan
semua peralatan dan bahan yang akan digunakan terutama klem, gunting, penghisap
lender (delee) dan benang tali pusat sudah di desinveksi tingkat tinggi atau
steril.
d) Pastikan
semua pakaian, handuk, selimut dan kain yang digunakan untuk bayi sudah dalam keadaan
bersih. Menurut JNPK-KR-APN ( 2010)
e) Menjaga
kehangatan dengan mengeringkan tubuh bayi mulai dari muka dan bagian tubuh
lainnya kecuali bagian tangan tanpa membersihkan verniks (Depkes RI, 2008).
2) Melakukan
penilaian
a) Apakah
bayi menangis kuat dan atau bernafas tanpa kesulitan.
b) Apakah
bayi bergerak dengan aktif atau lemas, jika bayi tidak bernafas atau bernafas
megap-megap atau lemah maka segera lakukan tindakan resusitasi bayi baru lahir.
3) Pencegahan
kehilangan panas.
a) Evaporasi
Penguapan cairan ketuban pada permukaan tubuh oleh panas
tubuh bayi sendiri karena setelah lahir, tubuh bayi tidak segera dikeringkan.
b) Konduksi
Kehilangan panas tubuh melalui kontak langsung melalui
kontak langsung antara tubuh bayi dengan permukaan yang dingin.
c) Konveksi
Kehilangan panas tubuh terjadi saat bayi terpapar udara
sekitar yang lebih dingin, adanya aliran udara dari kipas angin, hembusan udara
melalui ventilasi atau pendingin ruangan.
d) Radiasi
Kehilangan panas yang terjadi karena bayi ditempatkan
didekat benda-benda yang mempunyai suhu tubuh yang lebih rendah dari suhu tubuh
bayi.
4) Mencegah
kehilangan panas
a) Keringkan
bayi dengan seksama
b) Selimuti
bayi dengan selimut atau kain bersih dan hangat
c) Selimuti
bagian kepala bayi
d) Anjurkan
ibu untuk memeluk dan menyusui bayinya
e) Jangan
segera menimbang atau memandikan bayi baru lahir.
5)
Pencegahan infeksi
a) Memberikan
Neo-K untuk mencegah terjadinya perdarahan karena defisiensi. Neo-Ka diberikan
parenteral dengan dosis0,5-1 mg secara IM.
b) Memberikan
obat tetes mata atau salep mata untuk pencegahan penyakit mata karena klamidia,
diberikan obat mata tetrasiklin 1% (JNPKR, 2010).
2.
Tinjauan Kasus
Bayi Ny. A, berumur
0 hari, lahir tanggal 08 Maret 2017, pukul 19.45 WIB. Lahir secara spontan,
jenis kelamin perempuan, berat badan: 2.470 gram, panjang badan: 48 cm.
Anamnesa
dilakukan pada tanggal 08 Maret 2017 pukul 20.45 WIB di Ruang Bersalin RSUD.
Dr. Adjidarmo Kab. Lebak .
Adapun data yang
didapatkan yaitu kelahiran ini merupakan kelahiran pertama, tidak pernah
keguguran. Selama kehamilan ibu melakukan pemeriksaan ANC teratur. Selama hamil
ibu tidak pernah menderita penyakit seperti asma, diabetes melitus, hipertensi
dan ibu tidak mengalami komplikasi kehamilan seperti eklampsi atau
pre-eklampsi, perdarahan antepartum, penyakit kelamin dan komplikasi lainnya.
Riwayat
persalinan ibu : jenis persalinan normal sepontan, lahir di Rumah Sakit
ditolong oleh bidan, lama persalinan kala I 19 jam, kala II 15 menit, ketuban
pecah spontan lamanya 15 menit, warna air ketuban jernih, bau khas, jumlah ± 500 cc. Tidak ada komplikasi pada
ibu dan bayi ketika persalinan berlangsung. Keadaan bayi lahir menangis kuat,
gerakan aktif, warna kulit kemerahan.
Pada pemeriksaan
fisik diperoleh keadaan umum baik, suhu 36,70C,
pernapasan 52 x/menit, nadi 136 x/menit. Pada bagian kepala terdapat 4 sutura,
yaitu frontalis, sagitalis, coronalis, lamboedea, dan tidak ada caput
sucsedeneum dan chepal hematoma,
ubun-ubun besar dan ubun-ubun kecil, muka simetris, tidak ada kelainan down
sindrom, tidak oedema, mata tidak ikterik dan tidak ada tanda pus, telinga
simetris, tidak ada serumen, mulut tidak ada palatoskizis, labioskizis dan
labiopalatoskizis, hidung tidak ada pernafasan cuping hidung, kulit kemerahan
terdapat fernik kaseosa dan tidak ada bercak mongol, leher tidak ada pembengkakan
KGB dan tyroid, dada simetris, paru-paru tidak ada bunyi whezing dan retraksi
dada, jantung terdengar bunyi lup dup dan bunyi jantung normal, abdomen
simetris, lunak saat tidak menangis, tali pusat2 arteri 1 vena dan tidak
ada perdarahan, punggung tidak ada spina
bifida. Ekstremitas atas/bawah: simetris, tidak ada polidaktili dan sidaktili,
genetalia: labia mayor sudah menutupi labia minor dan terdapat 3 lubang
klitoris, uretra dan vagina, anus: tidak ada atresia ani.
Moro
refleks, rooting refleks, sucking refleks, swallowing refleks, dan babynski
refleks baik, lingkar kepala: CMO: 32 cm, CFO: 32 cm
dan CSOB: 34 cm, lingkar dada: 35 cm, lingkar lengan atas: 6 cm, sudah
mengeluarkan mekonium dan miksi.
Diagnosis pada bayi Ny. A adalah
Neonatus Cukup Bulan Sesuai Masa Kehamilan.
Asuhan yang diberikan pada bayi Ny. A
yaitu :
1. melakukan informed consent untuk dilakukan pemeriksaan.
Ibu bersedia bayinya dilakukan pemeriksaan
2. memberitahu ibu hasil pemeriksaan bayinya,
bahwa bayi dalam keadaan baikyaitu BB: 2.470 gram, PB:48 cm, jenis kelamin:
perempuan, tangisan kuat, gerakan aktif dan warna kulit kemerahan. Ibu sudah
mengetahui hasil pemeriksaan.
3. Mengeringkan
bayi dengan menggunakan kain kering dan bersih serta menghisap lendir bayi.
Bayi telah dikeringkan dan dihangatkan
4. Menyuntikan
NeoK setelah 1 jam menyuntikan Hb0 untuk mencegah penyakit hepatitis dipaha
sebelah kanan secara IM. Neo-K dan Hb0 telah disuntikan
5. memberitahukan ibu tanda-tanda bahaya BBL
seperti suhu tubuh tinggi, perdarahan tali pusat, kejang dan bayi kuning. Ibu
sudah mengetahui tanda bahaya bayi baru lahir.
3.
Pembahasan
Data dasar bayi Ny. A lahir pada tanggal
08 Maret 2017, pukul 19.45 WIB.
Lahir secara spontan, menangis kuat, gerakan aktif, warna kulit kemerahan,
jenis kelamin perempuan, berat badan: 2.470 gram, panjang badan: 48 cm.
Pernyataan ini tidak sesuai dengan teori M. Sholeh Kosim (2007) yang menyatakan
bahwa pada bayi baru lahir normal yaitu : berat lahir antara 2500 gram-4000
gram, cukup bulan, lahir langsung menangis dan tidak ada kelainan kongenital
yang berat.
Melakukan pencegahan hipotermi yaitu
mengganti pakaian basah bayi dengan kain kering. Hal ini sesuai dengan teori
Sumarah (2009) yang menyebutkan bahwa segera setelah bayi lahir keringkan dan
ganti kain yang basah dengan kain yang bersih dan hangat.
Pada Bayi Ny. A dilakukan inisiasi
menyusui dini selama 1 jam. Hal ini sesuai dengan teori JNPK-KR (2008) yang
mengemukakan bahwa segera setelah bayi lahir harus mendapatkan kontak kulit
dengan kulit ibunya sesegera mungkin.
Menyuntikkan Neo-K / Vit K dosis 0.5 mg
dipaha sebelah kiri secara IM ini sesuai dengan teori Saifuddin (2008) yang
menyatakan bahwa untuk mencegah perdarahan karena
defesiensi vitamin K maka setiap bayi yang baru lahir normal dan cukup bulan
perlu diberi vitamin K peroral 1 mg/hari selama 3 hari, sedangkan bayi resiko
tinggi diberi vitamin K dosis 0,5 – 1 mg (1 M).
Pada Bayi Ny. A, telah
diberikan salep mata. Hal ini sesuai dengan teori JNPK-KR (2008) yang
menyatakan bahwa bayi baru lahir perlu diberikan salep mata yang diberikan
dalam 1 garis lurus, mulai dari bagian
mata yang paling dekat dengan hidung bayi menuju bagian luar.
Pada Bayi Ny. A telah
diberikan injeksi HB0 1 jam setelah pemberian Vit K. Hal ini sesuai dengan
teori JNPK-KR (2008) yang menyatakan bahwa bayi baru lahir perlu diberikan
injeksi HB0 untuk mencegah penyakit Hepatitis B.
Berdasarkan manajemen asuhan
kebidanan yang telah diberikan pada bayi Ny. A di RSUD. Dr. Adjidarmo kab.
Lebak tidak terdapat kesenjangan antara
teori dan praktik.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
1.
Kehamilan
Manajemen asuhan kebidanan pada Ny. D G1P0A0
hamil 37 minggu 5 hari di RSUD. Dr Adjidarmo Kab. Lebak dilakukan sesuai dengan
manajemen kebidanan dan tidak ada kesenjangan antara teori dan praktik.
2.
Persalinan
Manajemen asuhan kebidanan pada Ny. A G1P0A0
dengan partus prematurus imminens di RSUD. Dr. Adjidarmo Kab. Lebak tidak terdapat
kesenjangan antara teori dengan kenyataan yang di dapat. Persalinan pada Ny. A berlangsung
lancar, aman dan bersih dengan menjalankan prinsip-prinsip pencegahan infeksi,
menggunakan alat partograf, melakukan manajemen aktif kala III dan pemantauan kala
IV.
3.
Nifas
Manajemen asuhan pada Ny. A P1A0
Post Partum 6 Jam di RSUD. Dr. Adjidarmo Kab. Lebak sesuai dengan menejemen asuhan kebidanan
tidak terdapat kesenjangan antara teori dengan praktik di lahan asuhan yang
diberikan akan sangat berguna untuk mewujudkan kesehatan ibu dan bayi, dapat
mencegah komplikasi awal dan merawat diri serta bayinya dengan baik.
4.
Bayi
baru lahir
Manajemen asuhan
kebidanan bayi baru lahir pada Bayi Ny. A Usia 0 hari Neonatus Cukup Bulan
Sesuai Masa Kehamilan yang lahir pada tanggal 08 Maret 2017 pukul 19.45 WIB
Bayi lahir secara spontan, menangis kuat, gerakan aktif, warna kulit kemerahan,
jenis kelamin: perempuan, berat badan: 2.470 gram, PB: 48 cm.
Penanganan yang
diberikan pada bayi Ny. A sesuai standar asuhan kebidanan yaitu cara merawat
tali pusat, pemberian Neo-K 0,5-1 mg, dan pemberian tetes mata yang mengandung
tertasiklin 1 %. Dari kasus yang telah dibahas tidak terdapat kesenjangan
antara teori dan kenyataan praktik dilahan.
B. Saran
1.
Bagi
Institusi
Diharapkan mampu memberikan bimbingan lebih intensif di
kelas, maupun pada saat mahasiswa praktik di lahan. Agar dapat mengetahui
sejauh mana pengetahuan keterampilan yang dimiliki oleh mahasiswa agar dalam
mencapaian target yang diinginkan tercapai.
2.
Bagi
RSUD Dr. Adjidarmo Kab. Lebak
Diharapkan agar rumah sakit dapat
mepertahankan bahkan meningkatkan pelayanan rumah sakit khususnya di ruang
bersalin dalam penanganan kasus PPI dan dalam pelayanan kebidanan lainnya sehingga
dapat menurunkan angka kematian ibu dan bayi di Indonesia khususnya Kabupaten
Lebak.
3.
Bagi
Mahasiswa
Sebagai
dokumen untuk perbandingan penelitian selanjutnya. Menambah wawasan dan pengetahuan
mengenai kasus yang di bahas dan penerapan ilmu yang telah di dapat selama perkuliahan.
DAFTAR PUSTAKA
Depkes RI. 2008. Asuhan Persalinan Normal. Jakarta.:
JNP-KR
Kemenkes.2012. Standar
Pelayanan Kebidanan (ANC). Jakarta:JNP-KR
Manuaba.
2008. Gawat Darurat Obstetri dan
Ginekologi. Jakarta : EGC.
Manuaba, Ida Bagus
Gede. 2010 Ilmu Kebidanan, Penyakit
Kandungan, dan Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan. Jakarta EGC.
Mochtar,
Rustam. 2013. Sinopsis Obstetri. Jakarta EGC
Nanny, Vivian dan Tri Sunarsih. 2011. Asuhan Kehamilan Untuk kebidanan. Jakarta
: Selemba Medika
Prawihardjo, Sarwono. 2008 Ilmu Kebidanan. Jakarta : YBP-SP.
Rukiyah, Ai Yeyeh dan Lia Yulianti. 2010. Asuhan Kebidanan 4Patologi Kebidanan.
Jakarta : TIM
Saifuddin, Abdul Bari. 2009 Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan
Maternal dan Neonatal. Jakarta : YBP-SP.
Sulistiyawati,
Ari. 2009. Asuhan Kebidanan Kehamilan.
Jakarta: Selemba Medika
Wiknjosastro, Hanifa (editor). 2008. Ilmu Kebidanan. Jakarta :
YBP-SP.
https://www.academia.edu/11676675/PARTUS_PREMATURUS_IMMINENS, di akses pada tanggal 09 Maret 2017
Comments
Post a Comment